E-Wallet sebagai Pembayaran Masa Kini di Tengah Pandemi Covid-19

Negara China merupakan awal mula adanya virus Covid-19 yang dimulai pada akhir tahun 2019. Hal itu mengakibatkan wabah penyakit menyerang secara lokal pada akhir bulan Januari 2020, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia (Muhyiddin, 2020). Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena dampak virus COVID-19. Dampak COVID-19 sudah mulai meresahkan masyarakat Indonesia, tidak hanya kesehatan, tetapi juga krisis ekonomi menjadi masalah terbesar selama pandemi.

Salah satu upaya pemerintah untuk menekan penyebaran virus ini adalah dengan mulai menerapkan kebijakan dan imbauan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan PSBB diawali dengan kegiatan  masyarakat seperti penutupan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan dan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat umum. Kegiatan dan beraktivitas hanya bisa dilakukan di rumah (work from home). Serta meninggalkan rumah saat hal mendesak. Ketika berada diluar rumah diterapkan sistem social and physical distancing (menjaga jarak aman antar individu dan menghindari keramaian).

Selama masa PSBB, perilaku kegiatan masyarakat berubah secara signifikan. Ada banyak perubahan selama pandemi, dan hampir semua kegiatan terhambat. Sehingga masyarakat harus ada perubahan dan membiasakan diri beradaptasi dengan kondisi saat ini. Untuk menerapkan physical distancing, orang beralih ke pengguna serba digital termasuk dalam transaksi. Saat ini, orang memilih untuk beralih ke pengguna E-Wallet dalam bertransaksi belanja online dan melakukan transaksi layanan.

E-Wallet dapat menjadi solusi yang tepat, dengan banyak munculnya startup dan marchant mengembangkan teknologi bisnis online dan menciptakan sistem E-Wallet. Dengan terciptanya sebuah aplikasi yang didalamnya terdapat banyak fitur layanan barang atau jasa. E-Wallet atau dompet digital adalah pengganti fungsi dompet yang biasa kita gunakan dalam  program aplikasi yang menggantikan kebutuhan masyarakat untuk menggunakan banyak kartu dalam dompet digital tanpa menggunakan uang cash atau tunai. E-Wallet juga memiliki beberapa fitur  keamanan yang disertakan dalam dompet digital yang digunakan untuk penggunaan sehari-hari. Misalnya ojek online, transfer antar dompet digital, membeli makanan tanpa menggunakan uang cash, membayar listrik, air dan pulsa. E-Wallet memungkinkan pengguna untuk melacak informasi tagihan dan pengiriman untuk membuat transaksi lebih cepat dan lebih aman.

E-Wallet merupakan tren masa kini yang sangat populer di kalangan milenial. E-Wallet (dompet digital) adalah teknologi penyimpanan uang terbaru dengan layanan program yang berguna untuk menyimpan dan menginformasikan pembelian online pengguna, seperti informasi login, alamat pengiriman pembeli, dan informasi pelanggan. Informasi pengguna disimpan dalam satu tempat dengan sistem yang aman.

(Markplus, Inc.) salah satu perusahaan riset mengkonfirmasi pernyataan tersebut dengan menerbitkan temuannya tentang pertumbuhan dompet digital selama tiga bulan terakhir (Juni, Juli-Agustus) pandemi. Perusahaan telah mengambil 502 responden dari kota-kota besar di Indonesia dengan  penggunaan smartphone tertinggi. Head of High Tech, Property & Consumer Goods Industry MarkPlus, Inc. (Rhesa Dwi Prabowo, 2020) menguraikan bahwa perusahaan melihat adanya kecenderungan peningkatan transaksi secara digital, lantaran rakyat lebih memilih memenuhi kebutuhannya secara online.

Total volume perdagangan E-Wallet Indonesia, ShopeePay sangat dominan dengan pangsa pasar  26% dari volume transaksi, disusul oleh OVO (24% dari total keseluruhan), GoPay (23% dari total keseluruhan), DANA (19% dari total keseluruhan) dan LinkAja (8% dari total keseluruhan).

Sumber: Markplus, Inc.

Integrasikan Shopee Pay dengan Shopee sebagai salah satu platform e-commerce terbesar menambah nilai transaksinya. ShopeePay  menjadi brand yang paling banyak digunakan di masa pandemi, dengan rata-rata frekuensi transaksi bulanan 7x lipat. Disusul DANA dengan rata-rata bulanan 6,4 kali, OVO dengan rata-rata bulanan 6,2 kali, GoPay dengan rata-rata bulanan 6,1 kali, dan LinkAja dengan rata-rata bulanan 5,7 kali.

Dari sisi nilai transaksi bulanan, ShopeePay menduduki peringkat pertama dengan nilai nominal transaksi maksimal sekitar Rp149.000, mengungguli LinkAja, DANA, dan OVO. Berdasarkan survei tersebut, ShopeePay menjadi dompet digital yang paling banyak digunakan dengan  30% responden,  diikuti oleh OVO  25%, GoPay  21%, DANA  18%, dan LinkAja  5%.

Integrasi tahunan dompet digital dan platform e-commerce adalah kunci sukses dalam meningkatkan potensi mendongkrak kesempatan memimpin pasar. Dalam konteks pandemi, integrasi ini tentu akan membuat pengalaman belanja online menjadi lebih mudah bagi masyarakat. Selain pengalaman berbelanja yang efektif dan efisien, integrasi ini sering diidentikkan dengan penawaran promosi menarik yang dapat meningkatkan daya beli pembeli.

Mengenai hasil survey pengguna dompet digital 2020 menemukan pola perilaku yang menarik dalam penggunaan dompet digital  di dua kelompok usia, Milenial dan Gen Z. Mayoritas pengguna dompet digital adalah generasi muda yang sudah memiliki kemampuan untuk membayar. Persentase tertinggi pengguna dompet digital adalah antara usia 25 samapi 40 tahun. Pada rentang usia ini, yang paling banyak melakukan pengisian (top-up) saldo dompet digital adalah pengguna 25 – 29 tahun. Sedangkan usia yang lebih tua cenderung untuk mengisi saldo lebih sedikit. (Ipsos, 2020)

(Sumber: Ipsos.com)

Rata-rata top-up adalah sebesar Rp.140.663. Dari jumlah 68% total pengisian saldo yang melakukan transaksi setidaknya sekali dalam satu minggu. Faktanya, sebagian besar mayoritas pengguna benar-benar menggunakan dompet digital mereka setidaknya satu minggu sekali.

Penggunaan berulang – ulang ini tentu menarik rasa ingin tahu mereka menggunakan dompet digital dibandingan uang tunai. Jawabannya adalah karena mayoritas  mengatakan lebih nyaman menggunakan dompet digital daripada uang tunai.

Ketika kenyamanan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, jelas bahwa dompet digital saat ini sudah mendapatkan tempat dalam kehidupan konsumen. Tentu saja sulit untuk meninggalkan kenyamanan yang didapat konsumen dari fasilitas yang mereka gunakan hampir setiap minggunya.

( Sumber: Ipsos.com)

Hasil survei (Ipsos, 2020) menunjukkan bahwa mayoritas pengguna dompet digital bersedia untuk terus menggunakannya tanpa penawaran promosi. Padahal, kondisi ini hanya berlaku bagi mereka yang sudah menggunakan dompet digital. Tentu saja, orang yang belum pernah menggunakannya akan berbeda.

( Sumber: Ipsos.com)

Selain tanpa promosi, pasti akan terjadi disinsentif. Singkatnya, menggunakan dompet digital mengubah perilaku. Perubahan perilaku dapat berupa pengurangan frekuensi penggunaan atau pengurangan jumlah transaksi.

Dalam survei (Ipsos, 2020) mengelompokkan penggunaan dompet digital berdasarkan matriks motif penggunaannya, yaitu :

  • Enjoyment

Merupakan pengguna Joy Seeker yang menggunakan dompet digital karena dapat memberikan  pengalaman yang menyenangkan dan nyaman tentunya.

  • Conviviality

Motif menggunakan dompet digital  didasarkan pada eksperimen untuk menemukan hal-hal baru sebagai pengguna.

  • Belonging

Beberapa pengguna menganggap dompet digital sebagai bentuk loyalitas. Dompet digital membuat mereka merasa terhubung dengan brand. Mereka membangun relationship.

  • Security

Masalah keamanan adalah motif umum dalam teknologi digital. Namun, dompet digital sebenarnya dapat memberikan rasa aman kepada pengguna.

  • Control

Dompet digital juga dianggap memberikan kendali manajemen yang cermat. Kendali ini dapat berupa pencatatan yang jelas, pengawasan, dll.

  • Recognition

Sebagai teknologi baru, dompet digital dapat membuat pengguna lebih mudah dikenali. Beberapa pengguna menemukan manfaat baru menggunakan dompet digital  dan dianggap unik oleh orang lain.

  • Power

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi digital dapat menawarkan peluang baru bagi pengguna. Motif kekuatan bisa menjadi pemicu mereka yang menggunakan dompet digital ingin menambah “kekuatan dan peluang” dalam hidup mereka.

  • Vitality

Dan yang terakhir adalah motif vitalitas. Ini berarti bahwa pengguna akan menggunakan dompet digital mereka untuk mempersiapkan masa depan. Mereka siap bersaing dan tidak tertinggal lagi secara wawasan dan pengetahuan.

Segmentasi berdasarkan motif di atas dapat membuka peluang baru bagi pemain baru di industri dompet digital. Tapi tentu saja, aktor utama  Indonesia dan paling penting sekarang sudah mulai terlihat.

Kelebihan dari E-Wallet:

  • Memberikan kemudahan dalam bertransaksi

E-Wallet memberikan kemudahkan untuk setiap orang dalam bertransaksi hanya dengan smartphone, tanpa harus membawa uang dengan dompet  tebal, kartu kredit, atau mengantri untuk mengambil uang di ATM.

  • Memberikan rasa nymana dan aman

Tidak perlu berpergian untuk keluar rumah, dengan E-Wallet bisa berbelanja atau membayar tagihan dimana saja dan kapan saja untuk menghemat waktu.

  • Mempermudah untuk mengetahui informasi transaksi

Dengan E-Wallet dapat mengetahui detail keuangan yang tersimpan dengan adanya riwayat transaksi.

  • Terdapat banyak promo menarik

Terdapat banyak promos yang sangat menguntungkan bagi para pengguna E-Wallet, seperti cashbak, diskon, dan penambahan koin.

Kelemahan dari E-Wallet:

  • Layanan terbatas

Dompet digital hanya dapat digunakan jika suatu merchant telah bermitra dengan  pendiri E-Wallet.

  • Tidak dapat diuangkan

E-Wallet tidak dapat dicairkan dengan uang kertas

Transaksi digital memudahkan masyarakat di masa pandemi ini. Penggunakan E-Wallet bisa menjadi alternatif, karena lebih aman, nyaman, dan  sesuai protokol kesehatan, sehingga berrisiko kecil dalam penyebaran Covid-19. Masyarakat tetap dapat bertransaksi dengan mudah tanpa harus bepergian keluar dengan rasa khawatir dengan tidak berkontak langsung dengan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Untuk lebih lengkapnya, saksikan vidio dibawah ini

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 30 − 27 =