HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN IPTEK DENGAN PENGGUNAAN BAHASA PADA REMAJA

Apakah kamu tau IPTEK itu apa? IPTEK merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Istilah IPTEK ini bukan hal baru lagi di masyarakat. Sejarah mengakatan jika penguasaan ilmu IPTEK ini dalam suatu negara tingi maka kemajuannya pun meningkat. IPTEK ini selain memiliki dampak yang positif tentu juga memiliki dampak negative, khususnya dalam penggunaan bahasa. Kamu penasaran? Yuk simak!

Kok bisa sih, perkembangan IPTEK mempengaruhi penggunaan bahasa?

Pada masa sekarang ini pengaruh globalisasi dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangat memengaruhi kehidupan masyarakat terutama kalangan remaja. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, sampai bahasa yang digunakan pun banyak yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Bahkan banyak remaja yang malu jika menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai dengan aturan. Padahal, bahasa adalah identitas bangsa yang menjadi salah satu penghargaan bagi negera ini.

Dengan adanya perkembangan yang pesat dapat membuat pergeseran dalam bahasa Indonesia. Apalgi saat ini banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggunakan bahasa Inggris. Hal tersebut menyebabkan peralihan dari bahasa Indonesia yang merupakan bahasa negara menjadi bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional. Peralihan bahasa tersebut membawa dampak positif dan negative. Dampak negative yang terjadi salah satunya penggunaan bahasa gaul pada remaja.

Apa sih bahasa gaul itu?

Bahasa gaul adalah bahasa khas remaja (kata-kata yang diubah-ubah  sedemikian  rupa,  sehingga  hanya  bisa di mengerti di antara  mereka) bisa di pahami  oleh  hamper  seluruh  remaja  di  tanah  air  yang  terjangkau  oleh  media  massa. Padahal istilah-istilah itu berkembang, berubah dan bertambah hampir setiap hari. Bahasa gaul adalah bahasa yang mempunyai istilah yang unik, sedangkang defenisi yang kedua di perjelas  lagi  bahwa  yang  menggunakan  bahasa  tersebut  adalah  para  remaja  dan  bahasa tersebut  akan  terus  berkembang. 

Kalangan  remaja  seringkali  menggunakan  Bahasa  Indonesia   yang dipadukan dengan Bahasa Gaul. Bukan sekadar itu saja, pada  saat  mengikuti  acara  formal,  kebanyakan   dari  mereka  juga  masih   menggunakan percampuran Bahasa Gaul. Padahal kegiatan formal  seharus nya  menggunakan  bahasa  yang  baku  dalam  komunikasinya.  Untuk  mengurangi  perluasan  penggunaan  bahasa  gaul  dimasyarakat terutama pada kalangan remaja, seharusnya dilakukan  upaya  untuk  menerapkan  dan  menyadarkan  kecintaan  terhadap   Bahasa Indonesia. Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang  tua di rumah kepada anak-anak mereka. Dapat pula dilakukan oleh  para guru kepada para siswa mereka. Selain itu, pihak pemerintah  dapat bertindak secara bijak dalam menyadarkan masyarakat untuk  mengutamakan  penggunaan  bahasa  Indonesia  di Indonesia seperti dengan menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan.

Ciri-ciri Bahasa Gaul itu bagaimana sih?

Bahasa gaul ini tidak hanya mereka (remaja) gunakan dalam berkomunikasi lisan tetapi mereka juga menggunakan bahasa gaul dalam penulisan. Biasanya mereka menggunakan bahasa gaul dalam menulis pesan singkat melalui telepon genggam. Ciri-ciri bahasa gaul yang digunakan remaja dalam menulis pesan singkat antara lain, yaitu:

(1) Dalam menulis kata biasanya mereka menggunakan kata-kata yang disingkat seperti lagi apa? menjadi gi pa?/pain, kuliah menjadi kul, sudah makan menjadi da mkn, bosan banget menjadi bosan bgt, kita menjadi qt, mau menjadi mo, pulang menjadi plg, padahal menjadi pdhl, kalau menjadi klo, dsb.

(2) Menggunakan simbol tambahan atau angka dalam menulis, misalnya p@ k@bar L0e?, tempat menjadi T4, sempat menjadi S4, berdua menjadi B2, senyum menjadi ^_^, babi menjadi :@), sedih menjadi 🙁 , pusing menjadi o:), mata genit menjadi ;-), dsb. Mereka tidak menyadari bahwa bagi orang awam membaca tulisan seperti itu sangatlah memusingkan, membuat mata sakit, dan susah memahaminya.

(3) Mereka juga terkadang menggunakan huruf z di belakang kata, contohnya because (bahasa Inggris) menjadi coz, easy (b. Inggris) menjadi ez, mengantuk menjadi Zzzzz, ketika mereka berbicara aksen huruf z pada akhir kata terdengar sangat jelas, sehingga membuat lawan bicara yang tidak memahaminya menjadi pusing.

Selain ciri-ciri tersebut masih ada ciri bahasa gaul yang digunakan remaja dalam berkomunikasi dan terkadang mereka juga menggunakannya dalam menulis. Ciri-ciri tersebut, antara lain membuat akronim yang diciptakan sendiri tanpa memperhatikan kaidah pembuatan akronim, contohnya baru balas menjadi rules, gagal total menjadi gatot, ketiak basah menjadi kebas, nonton hemat menjadi nomat, mudah ngiler menjadi mungil, cinta lewat dukun menjadi cileduk, golongan orang jelek menjadi golek, pulang duluan menjadi puldul, muka jaman dulu menjadi mujadul, makan siang menjadi maksi, keren habis menjadi keris, tukang tipu menjadi tuti, dsb.

Faktor apa aja sih? Yang menjadi penyebab maraknya penggunaan Bahasa Gaul dikalangan remaja?

Faktor penyebab adanya bahasa gaul yaitu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, salah satunya adalah melalui peran media elektronik dan cetak. oleh sebab itu bahasa gaul tidak hanya terjadi karena kontak langsung dengan masyarakat itu sendiri. Dalam media elektornik banyak menggunakan istilah gaul khususnya pada film remaja dan iklan, misalnya dari adegan percakapan di televisi, sedangkan pada media cetak, misalnya di dalam majalah, surat kabar, dan pembuatan karya sastra remaja seperti cerita pendek (cerpen) atau novel yang pada umumnya menggunakan bahasa gaul.

Dampak dari pembangunan dan perkembangan zaman atau modernisasi, dimana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu ter-up to date, dan yang paling terlihat perubahannya adalah gaya hidup, seperti cara berpakaian, cara belajar, aplikasi teknologi yang makin maju maupun cara bertutur kata (pemakaian bahasa) seperti bahasa gaul yang akan selalu muncul dan berkembang sesuai zaman masing-masing. Namun dengan adanya perkembangan teknologi ini secara bertahap bahasa indonesia mulai hilang dan mulai muncul bahasa gaul.

Lalu, bahasa yang baik itu yang bagaimana?

Tentu saja Bahasa yang baik ya Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Menurut Wikipedia, Bahasa Indonesia adalah dan resmi di seluruh Indonesia. Ini merupakan bahasa komunikasi resmi, diajarkan di sekolah-sekolah dan digunakan untuk disiarkan di media elektronik dan digital. Sebagai negara dengan tingkat multilingual (terutama trilingual) teratas di dunia, mayoritas orang Indonesia juga mampu bertutur dalam bahasa daerah atau bahasa suku mereka sendiri, dengan yang paling banyak dituturkan adalah bahasa Jawa dan Sunda yang juga memberikan pengaruh besar ke dalam elemen bahasa Indonesia itu sendiri.

Bahasa baku menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari-hari dalam masyarakat. Bahasa baku mencakup pemakaian sehari-hari pada bahasa percakapan lisan maupun bahasa tulisan.

Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti,

2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang,

3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini,

 4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/, dan

5. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.

Lalu bagaimana cara kita menghadapi perkembangan IPTEK ini?

Dalam menghadapi perkembangan IPTEK yang semakin melesat, diperlukan sikap yang selektif dan bijak untuk menangkis pengaruh buruk yang masuk. Contoh sikap bijak harus kita lakukan dalam menghadapi perkembangan IPTEK antara lain:

  • Selektif saya menerima budaya baru yang masuk
  • Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
  • Menanamkan nilai etika dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari
  • Menolak IPTEK yang memberikan pengaruh buruk pada HAM dan menyalahi dasar negara
  • Memperkaya literasi digital untuk memperluas pengetahuan
  • Pengawasan orang tua terhadap penggunaan internet anaknya
  • Penanam nilai dan moral di Sekolah harus digenjarkan

Apakah kamu tau IPTEK itu apa? IPTEK merupakan singkatan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Istilah IPTEK ini bukan hal baru lagi di masyarakat. Sejarah mengakatan jika penguasaan ilmu IPTEK ini dalam suatu negara tingi maka kemajuannya pun meningkat. IPTEK ini selain memiliki dampak yang positif tentu juga memiliki dampak negative, khususnya dalam penggunaan bahasa. Kamu penasaran? Yuk simak!

Kok bisa sih, perkembangan IPTEK mempengaruhi penggunaan bahasa?

Pada masa sekarang ini pengaruh globalisasi dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sangat memengaruhi kehidupan masyarakat terutama kalangan remaja. Mulai dari gaya hidup, cara berpakaian, sampai bahasa yang digunakan pun banyak yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa. Bahkan banyak remaja yang malu jika menggunakan Bahasa Indonesia yang baku dan sesuai dengan aturan. Padahal, bahasa adalah identitas bangsa yang menjadi salah satu penghargaan bagi negera ini.

Dengan adanya perkembangan yang pesat dapat membuat pergeseran dalam bahasa Indonesia. Apalgi saat ini banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggunakan bahasa Inggris. Hal tersebut menyebabkan peralihan dari bahasa Indonesia yang merupakan bahasa negara menjadi bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional. Peralihan bahasa tersebut membawa dampak positif dan negative. Dampak negative yang terjadi salah satunya penggunaan bahasa gaul pada remaja.

Apa sih bahasa gaul itu?

Bahasa gaul adalah bahasa khas remaja (kata-kata yang diubah-ubah  sedemikian  rupa,  sehingga  hanya  bisa di mengerti di antara  mereka) bisa di pahami  oleh  hamper  seluruh  remaja  di  tanah  air  yang  terjangkau  oleh  media  massa. Padahal istilah-istilah itu berkembang, berubah dan bertambah hampir setiap hari. Bahasa gaul adalah bahasa yang mempunyai istilah yang unik, sedangkang defenisi yang kedua di perjelas  lagi  bahwa  yang  menggunakan  bahasa  tersebut  adalah  para  remaja  dan  bahasa tersebut  akan  terus  berkembang. 

Kalangan  remaja  seringkali  menggunakan  Bahasa  Indonesia   yang dipadukan dengan Bahasa Gaul. Bukan sekadar itu saja, pada  saat  mengikuti  acara  formal,  kebanyakan   dari  mereka  juga  masih   menggunakan percampuran Bahasa Gaul. Padahal kegiatan formal  seharus nya  menggunakan  bahasa  yang  baku  dalam  komunikasinya.  Untuk  mengurangi  perluasan  penggunaan  bahasa  gaul  dimasyarakat terutama pada kalangan remaja, seharusnya dilakukan  upaya  untuk  menerapkan  dan  menyadarkan  kecintaan  terhadap   Bahasa Indonesia. Penyadaran ini dapat dilakukan oleh para orang  tua di rumah kepada anak-anak mereka. Dapat pula dilakukan oleh  para guru kepada para siswa mereka. Selain itu, pihak pemerintah  dapat bertindak secara bijak dalam menyadarkan masyarakat untuk  mengutamakan  penggunaan  bahasa  Indonesia  di Indonesia seperti dengan menerbitkan Undang-Undang Kebahasaan.

Ciri-ciri Bahasa Gaul itu bagaimana sih?

Bahasa gaul ini tidak hanya mereka (remaja) gunakan dalam berkomunikasi lisan tetapi mereka juga menggunakan bahasa gaul dalam penulisan. Biasanya mereka menggunakan bahasa gaul dalam menulis pesan singkat melalui telepon genggam. Ciri-ciri bahasa gaul yang digunakan remaja dalam menulis pesan singkat antara lain, yaitu:

(1) Dalam menulis kata biasanya mereka menggunakan kata-kata yang disingkat seperti lagi apa? menjadi gi pa?/pain, kuliah menjadi kul, sudah makan menjadi da mkn, bosan banget menjadi bosan bgt, kita menjadi qt, mau menjadi mo, pulang menjadi plg, padahal menjadi pdhl, kalau menjadi klo, dsb.

(2) Menggunakan simbol tambahan atau angka dalam menulis, misalnya p@ k@bar L0e?, tempat menjadi T4, sempat menjadi S4, berdua menjadi B2, senyum menjadi ^_^, babi menjadi :@), sedih menjadi 🙁 , pusing menjadi o:), mata genit menjadi ;-), dsb. Mereka tidak menyadari bahwa bagi orang awam membaca tulisan seperti itu sangatlah memusingkan, membuat mata sakit, dan susah memahaminya.

(3) Mereka juga terkadang menggunakan huruf z di belakang kata, contohnya because (bahasa Inggris) menjadi coz, easy (b. Inggris) menjadi ez, mengantuk menjadi Zzzzz, ketika mereka berbicara aksen huruf z pada akhir kata terdengar sangat jelas, sehingga membuat lawan bicara yang tidak memahaminya menjadi pusing.

Selain ciri-ciri tersebut masih ada ciri bahasa gaul yang digunakan remaja dalam berkomunikasi dan terkadang mereka juga menggunakannya dalam menulis. Ciri-ciri tersebut, antara lain membuat akronim yang diciptakan sendiri tanpa memperhatikan kaidah pembuatan akronim, contohnya baru balas menjadi rules, gagal total menjadi gatot, ketiak basah menjadi kebas, nonton hemat menjadi nomat, mudah ngiler menjadi mungil, cinta lewat dukun menjadi cileduk, golongan orang jelek menjadi golek, pulang duluan menjadi puldul, muka jaman dulu menjadi mujadul, makan siang menjadi maksi, keren habis menjadi keris, tukang tipu menjadi tuti, dsb.

Faktor Apa Sih? Yang Menjadi Penyebab Maraknya Penggunaan Bahasa Gaul Dikalangan Remaja?

Faktor penyebab adanya bahasa gaul yaitu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, salah satunya adalah melalui peran media elektronik dan cetak. oleh sebab itu bahasa gaul tidak hanya terjadi karena kontak langsung dengan masyarakat itu sendiri. Dalam media elektornik banyak menggunakan istilah gaul khususnya pada film remaja dan iklan, misalnya dari adegan percakapan di televisi, sedangkan pada media cetak, misalnya di dalam majalah, surat kabar, dan pembuatan karya sastra remaja seperti cerita pendek (cerpen) atau novel yang pada umumnya menggunakan bahasa gaul.

Dampak dari pembangunan dan perkembangan zaman atau modernisasi, dimana segala hal yang ada di lingkungan kita harus selalu ter-up to date, dan yang paling terlihat perubahannya adalah gaya hidup, seperti cara berpakaian, cara belajar, aplikasi teknologi yang makin maju maupun cara bertutur kata (pemakaian bahasa) seperti bahasa gaul yang akan selalu muncul dan berkembang sesuai zaman masing-masing. Namun dengan adanya perkembangan teknologi ini secara bertahap bahasa indonesia mulai hilang dan mulai muncul bahasa gaul.

Lalu, bahasa yang baik itu yang bagaimana?

Tentu saja Bahasa yang baik ya Bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Menurut Wikipedia, Bahasa Indonesia adalah dan resmi di seluruh Indonesia. Ini merupakan bahasa komunikasi resmi, diajarkan di sekolah-sekolah dan digunakan untuk disiarkan di media elektronik dan digital. Sebagai negara dengan tingkat multilingual (terutama trilingual) teratas di dunia, mayoritas orang Indonesia juga mampu bertutur dalam bahasa daerah atau bahasa suku mereka sendiri, dengan yang paling banyak dituturkan adalah bahasa Jawa dan Sunda yang juga memberikan pengaruh besar ke dalam elemen bahasa Indonesia itu sendiri.

Bahasa baku menjadi bahasa pokok yang menjadi bahasa standar dan acuan yang digunakan sehari-hari dalam masyarakat. Bahasa baku mencakup pemakaian sehari-hari pada bahasa percakapan lisan maupun bahasa tulisan.

Ciri-ciri ragam bahasa baku adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan kaidah tata bahasa normatif. Misalnya dengan penerapan pola kalimat yang baku: acara itu sedang kami ikuti dan bukan acara itu kami sedang ikuti,

2. Penggunaan kata-kata baku. Misalnya cantik sekali dan bukan cantik banget; uang dan bukan duit; serta tidak mudah dan bukan nggak gampang,

3. Penggunaan ejaan resmi dalam ragam tulis. Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disempurnakan (EYD). Bahasa baku harus mengikuti aturan ini,

 4. Penggunaan lafal baku dalam ragam lisan. Meskipun hingga saat ini belum ada lafal baku yang sudah ditetapkan, secara umum dapat dikatakan bahwa lafal baku adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau bahasa daerah. Misalnya: /atap/ dan bukan /atep/; /habis/ dan bukan /abis/; serta /kalaw/ dan bukan /kalo/, dan

5. Di luar pendapat umum yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia itu bertele-tele, bahasa baku mengharuskan komunikasi efektif: pesan pembicara atau penulis harus diterima oleh pendengar atau pembaca persis sesuai maksud aslinya.

Lalu bagaimana cara kita menghadapi IPTEK ini?

Dalam menghadapi perkembangan IPTEK yang semakin melesat, diperlukan sikap yang selektif dan bijak untuk menangkis pengaruh buruk yang masuk. Contoh sikap bijak harus kita lakukan dalam menghadapi perkembangan IPTEK antara lain:

  • Selektif saya menerima budaya baru yang masuk
  • Mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
  • Menanamkan nilai etika dan nilai agama dalam kehidupan sehari-hari
  • Menolak IPTEK yang memberikan pengaruh buruk pada HAM dan menyalahi dasar negara
  • Memperkaya literasi digital untuk memperluas pengetahuan
  • Pengawasan orang tua terhadap penggunaan internet anaknya
  • Penanam nilai dan moral di Sekolah harus digenjarkan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 89 − 86 =