Literasi Digital dalam Bidang Pendidikan di Sekolah, Seperti Apa?

Pada zaman modern seperti sekarang ini, teknologi berkembang sangat pesat dan menjadi suatu hal yang diperlukan semua orang dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saja handphone, yang mana menjadi suatu benda yang wajib dimiliki seseorang pada generasi sekarang. Hanya dengan menggerakkan jari pada handphone saja kita dapat mengakses ataupun melakukan kegiatan dengan mudah dan praktis. Apalagi seiring perkembangan teknologi, semakin banyak aplikasi yang diciptakan untuk memudahkan pengguna dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Dengan bantuan internet dan aplikasi yang tersedia, kita dapat melakukan kegiatan via online seperti berbelanja, memesan makanan, memesan tiket transportasi, dan masih banyak lagi. Tentunya aplikasi-aplikasi tersebut sangatlah bermanfaat.

Adanya perkembangan teknologi juga memberikan dampak dalam berbagai bidang, salah satunya adalah dalam bidang pendidikan. Teknologi dibutuhkan dalam dunia pendidikan sebagai media untuk memudahkan orang mengakses ilmu melalui internet. Misalnya, e-library atau perpustakaan digital yang disediakan untuk memudahkan orang mengakses buku tanpa harus pergi secara langsung ke perpustakaan. Tahun 2020 pada awal pandemi, pemerintah mewajibkan sekolah untuk memberlakukan sistem pembelajaran jarak jauh. Dalam pelaksanaanya, tentu dibutuhkan media untuk mengikuti pembelajaran di kelas tatap muka virtual secara bersamaan. Biasanya, pembelajaran di kelas menggunakan media penerapan literasi digital seperti zoom meeting ataupun google meet. Mau tidak mau guru dan peserta didik harus bisa memanfaatkan teknologi. Untuk mengaplikasikan aplikasi tersebut, diperlukan pengetahuan dan kecakapan literasi digital. Lantas, apa itu literasi digital?

Sebelum membahas tentang literasi digital, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian dari literasi. Menurut Elizabeth Sulzby (1986), literasi merupakan kemampuan berbahasa yang dimiliki seseorang dalam berkomunikasi yaitu membaca, berbicara, menyimak dan menulis dengan cara yang berbeda sesuai tujuannya. Singkatnya, literasi yaitu kemampuan menulis dan kemampuan membaca. Dalam literasi, membaca bukan hanya diartikan sebagai membaca tulisan saja, akan tetapi juga membaca atau menerjemahkan lambang (simbol) agar diproses menjadi suatu pengertian.

Menurut kemendikbud, terdapat enam jenis literasi, diantaranya sebagai berikut.
1. Literasi Baca dan Tulis
Literasi baca dan tulis merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.
2. Literasi Numerasi
Literasi numerasi merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk: bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari; bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (misalnya grafik, tabel, bagan, dan lain-lain.); untuk mengambil keputusan.
3. Literasi Sains
Literasi sains merupakan pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.
4. Literasi Digital
Literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.
5. Literasi Finansial
Literasi finansial merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan, serta motivasi dan pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.
6. Literasi Budaya dan Kewargaan
Literasi budaya merupakan pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sedangkan literasi kewargaan merupakan pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.

Sesuai dengan penjelasan di atas, secara singkat literasi digital berarti kemampuan seseorang untuk menggunakan suatu media digital agar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Pengertian lain menurut Gilster (1997), literasi digital didefinisikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format yang berasal dari berbagai sumber yang disajikan melalui komputer.


Dalam dunia pendidikan, peserta didik dan pendidik perlu memiliki kemampuan dalam mengakses, memahami, dan menggunakan media digital. Bukan hanya ketika pembelajaran daring diberlakukan saja, tetapi literasi digital di sekolah sangat penting dalam mengembangkan kecakapan digital sehingga aktivitas di sekolah tidak lepas dari pola pikir masyarakat digital yang serba efektif dan efisien.

Dalam kemendikbud (2017), tujuan literasi digital di lingkungan sekolah mencakup:
1. Meningkatnya kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan inovatif dalam menggunakan media digital dan internet di lingkungan sekolah;
2. Meningkatnya sikap positif, bijak, cermat, dan tepat dalam menggunakan dan mengelola media digital dan internet di lingkungan sekolah;
3. Meningkatnya keterampilan anggota keluarga dalam menggunakan media digital dan internet di lingkungan sekolah;
4. Meningkatnya akses sekolah dalam menggunakan media digital dan internet; dan
5. Meningkatnya partisipasi publik dalam mengembangkan literasi digital di sekolah (melaui pelatihan, penyediaan akses, dan penyediaan bahan bacaan).

Contoh penerapan literasi digital dalam pembelajaran di sekolah diantaranya: memanfaatkan e-mail sebagai perantara mengirim tugas, menggunakan aplikasi meeting online seperti zoom meeting atau google meet, melakukan pencarian terkait materi pembelajaran melalui browser, mengerjakan kuis online, dan sebagainya.


Referensi


Gilster, P. (1997). Digital Literacy. John Wiley & Sons, Inc. Publisher.

Teale, William, & Sulzby, Elizabeth. (1986). Emergent literacy: Writing and Reading. Norwood, NJ: Ablex Publishing Corporation.

Kemendikbud. (2017). Peta Jalan Gerakan Literasi Nasional. Jakarta: Kemendikbud. [Online]: diakses pada 10 Desember 2022, pukul: 10:40 WIB. Tersedia di https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/08/peta-jalan-gln_rev.pdf .

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha + 69 = 78