Pengaruh Aplikasi TikTok Terhadap Daya Fokus

by Maria Bertha Putri Sinaga

Semakin berkembangnya teknologi, terutama dalam bidang entertainment, TikTok hadir sebagai salah satu aplikasi yang mampu menangkap perhatian para pengguna internet sejak pandemi covid-19 kemarin dan masih belum meninggalkan popularitasnya hingga sekarang. Menurut www.DemandSage.com , pengguna aplikasi ini telah mencapai lebih dari 1 miliar. Yang menempatkan aplikasi ini di posisi ke-6 sebagai aplikasi terpopuler. Sehingga mustahil bagi orang-orang, terutama pengguna internet untuk tidak tahu apa itu TikTok.

Mudahnya cara penggunaan, bentuk durasi video yang bisa dibilang ‘cukup pendek’, serta hadirnya fitur yang kita sebut dengan FYP/For You Page di mana fitur tersebut menghadirkan video-video pendek yang sesuai dengan ketertarikan kita membuat banyak sekali orang yang menggandrungi aplikasi ini. Tidak hanya dari generasi muda, tetapi TikTok juga memiliki pesona yang membuat semua generasi menggandrungi aplikasi ini.

Kepopuleran TikTok juga membawa banyak dampak terhadap para penggunanya. Kita bisa mendapatkan informasi yang berguna, hiburan, serta menjalin relasi pertemanan. Namun, tidak bisa dipungkiri juga, TikTok juga membawa dampak yang buruk. Terlebih terhadap diri kita sendiri. Lantas, bagaimana TikTok bisa memengaruhi daya fokus kita?

Fitur FYP pada aplikasi dimana banyaknya rekomendasi video yang hanya memiliki durasi antara 21-34 detik memiliki efek jangka panjang terhadap daya fokus kita. Apalagi jika kita terus menerus menonton video dengan durasi pendek dalam jangka waktu yang lama.

Beberapa pengguna yang biasanya bisa mendapatkan intisari dari suatu video dalam beberapa detik cenderung menjadi bosan, bahkan tidak tertarik jika harus menonton video yang memiliki durasi 10-30 menit. Walaupun topik dalam video tersebut menarik bagi mereka.

Hal ini mengakibatkan rendahnya daya fokus, terutama bagi pelajar sehingga bisa menyebabkan turunnya performa akademik mereka. Hal tersebut juga membuat kita menjadi ketergantungan dengan handphone, serta menyebabkan tidak ‘hadirnya’ kita dalam berkomunikasi dengan orang lain.

“Anda hanya akan berada dalam kondisi dopamin yang menyenangkan ini, terbawa suasana,” kata Dr. Julie Albright dalam wawancara dengan majalah Forbes. “Ini hampir menghipnotis, kamu akan terus menonton dan menonton.”

Dalam wawancara tersebut, Albright menjelaskan kaitan antara media sosial dan mesin slot. Dia mengatakan bahwa platform seperti TikTok, Instagram, dan Snapchat memiliki sifat adiktif yang sama seperti perjudian.

“Dalam istilah psikologis disebut penguatan acak,” kata Albright. “Artinya terkadang Anda menang, terkadang Anda kalah. Dan begitulah cara platform ini dirancang… persis seperti mesin slot. Nah, satu hal yang kita tahu adalah mesin slot itu membuat ketagihan. Kami tahu ada kecanduan judi, bukan? Tetapi kami tidak sering berbicara tentang bagaimana perangkat kami dan platform ini serta aplikasi ini memiliki kualitas adiktif yang sama di dalamnya.

Lantas, bagaimana cara kita mencegah ketergantungan media sosial? Coba untuk menerapkan batas layar jika ingin membuka media sosial. Jika batas pengguna telah mencapai batas yang ditentukan, maka pengguna harus memasukkan kata sandi untuk terus menggunakan aplikasi. Sehingga dengan dihadirkannya fitur tersebut, diharapkan daya fokus kita akan semakin meningkat dan kita bisa kembali melakukan kegiatan sehari-hari dengan tenang tanpa merasakan dorongan untuk membuka aplikasi.

Berikut link youtube untuk penjelasan lebih dalam : https://youtu.be/sKfd-GpaolI

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha 11 − 9 =