Personalitas Generasi Zoomers terhadap Penggunaan Media Sosial TikTok sebagai Wadah Edukasi dan Aktivisme

Generasi Zoomers, juga dikenal sebagai Generasi Z, adalah generasi yang lahir setelah milenial, antara pertengahan 1990-an dan awal 2010-an. Generasi ini tumbuh dengan dikelilingi teknologi digital, termasuk media sosial, yang memainkan peran penting dalam kehidupan mereka. Perbedaan yang sangat mencolok dari generasi Zoomers dengan generasi lainnya ialah penggunaan telepon seluler. Penggunaan akses internet dengan mudah melalui telepon seluler seiring hidup di era globalisasi pada Generasi Zoomers menghasilkan generasi yang dependen dengan internet. Dampak dari kemudahan dalam mengakses internet menciptakan internet sebagai sumber referensi utama dalam mencari suatu informasi. Seiring dengan peningkatan konektivitas global, pergeseran generasi dapat memainkan peran yang lebih penting dalam menentukan perilaku daripada perbedaan sosio-ekonomi. Kaum muda telah menjadi pengaruh yang kuat bagi orang-orang dari segala usia dan pendapatan, serta pada cara orang-orang tersebut mengonsumsi dan berhubungan dengan mereka (Francis & Hoefel, 2018). Penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, hingga TikTok dipenuhi oleh berbagai generasi. Jika Facebook lebih sering digunakan oleh Generasi X, maka TikTok lah yang didominasi oleh Generasi Zoomers.

Dengan kemudahan dengan mengunduh aplikasi, maka informasi yang ingin dicari menjadi mudah. Salah satu media sosial yang sedang hangat dibicarakan dan paling banyak digunakan oleh Generasi Zoomers adalah TikTok. Dengan menggunakan perspektif konstruksionis sosial dimana hasil interpretasi dari interaksi sosial membentuk sense of self kepada pengguna dan penonton yang tertarik pada konten tertentu di TikTok. Perilaku Generasi Zoomers dalam menggunakan TikTok sebagai wadah penyaluran edukasi dan aktivisme merupakan suatu perilaku manusia dalam periode umur remaja yang inovatif dan kreatif. Upaya intervensi dalam perilaku ini adalah mengubah cara pandang media sosial yang selalu di anggap negatif karena perilaku adikitif yang mampu dimunculkan oleh media sosial tersebut. Namun, kreativitas yang disajikan dalam TikTok oleh para pengguna merupakan salah satu cara yang dapat mengubah perspektif tersebut menjadi positif.

Media sosial mempunyai teknologi seluler dan berbasis web untuk menciptakan platform yang sangat interaktif di mana individu dan komunitas mampu berbagi, membuat bersama, mendiskusikan, dan memodifikasi konten yang dibuat pengguna. Pemanfaatan TikTok diidealkan dengan apa yang sudah ditafsirkan kutipan di atas. Banyaknya perkembangan aplikasi seperti aplikasi jaringan sosial TikTok dapat menjadikan individu mengonsumsi media sosial lebih banyak dari sebelumnya. Namun, hal tersebut akankah menghasilkan dampak yang positif atau malah sebaliknya. Teknologi yang sangat berkembang dan kebutuhan manusia yang semakin tinggi menyebabkan media sosial terus berkembang pula dengan permintaan yang ada. Hadirlah TikTok dengan keunikan dan karakteristiknya sendiri yakni, durasi videonya yang pendek, 15 atau 60 detik atau bahkan bisa lebih, yang mampu membuat pengguna mengakses aplikasi tersebut secara berulang-ulang karena durasi ini yang seolah-olah menghipnotis pengguna dengan kesenangan yang instan. Pembawaan TikTok yakni dengan iringan music dan video mampu membuat pengguna merasakan rasa senang yang bersifat adiktif dan menyebabkan pengguna terus menggulir konten-konten di dalam aplikasi tersebut.

Edukasi dalam TikTok merupakan edukasi informal dimana ilmu-ilmu yang disajikan di dalam aplikasi ini bersifat umum ataupun spesifik tergantung konten apa yang disajikan oleh suatu pengguna. Salah satu contoh penyajian edukasi dan aktivisme dalam TikTok adalah dengan penggunaan hashtag untuk menjalani suatu kampanye. Dilansir dari Berita Lima, Beberapa waktu lalu lebih tepatnya pada bulan Oktober 2020, TikTok mengajak kreator untuk berbagi konten edukasi dalam kompetesi #TikTokPintar. Kompetesi ini berhadiah ratusan juta rupiah dan para kreator dibebaskan untuk memberikan konten apapun namun dalam tema di bidang edukasi. Entah itu dapat berupa pengetahuan umum, bisnis, fakta umum, tips dan trik, bahasa asing, hingga IPTEK. Menurut laporan artikel yang di lansir oleh Deloitte Global Millenial Survey 2020, bahwa hampir tiga perempat responden (27.528 responden, keduanya generasi milenial dan generasi Zoomers, dari 43 negara) mengatakan pandemi telah membuat mereka lebih bersimpati terhadap kebutuhan orang lain dan bahwa mereka berniat mengambil tindakan untuk memberi dampak positif pada komunitas mereka. Hal ini dapat tercerminkan dari penggunaan tagar #SamaSamaBelajar yang mendapatkan kurang lebih 20 juta tontonan oleh para pengguna. Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa terlepas dari tantangan individu dan sumber kecemasan pribadi yang dihadapi Generasi Milenial dan Generasi Zoomers, mereka tetap fokus pada masalah sosial yang lebih besar,

Bagaimana dalam bidang Aktivisme?

Sebelumnya telah dijelaskan di pendahuluan bahwa generasi yang paling banyak menggunakan TikTok adalah Generasi Zoomers dalam rentang umur kelahiran tahun 1995-2010. Pengaruh Generasi Zoomers saat ini sangat penting dikarenakan adanya globalisasi dan penggunaan teknologi yang kuat. Ingat gerakan aktivisme Black Lives Matter dan protes kematian George Floyd pada bulan mei 2020? Ya, Tiktok berperan sangat penting dalam gerakan ini. Sebelumnya gerakan Black Lives Matter atau BLM bermula sejak tahun 2013 dengan penggunaan tagar #BlackLivesMatter pertama kali di media sosial Facebook oleh Alicia Garza. Garza menuliskan kontennya di facebook pada tanggal 13 juli 2013 karena geram atas pembebasan George Zimmerman, seorang kulit putih, atas pembunuhan remaja kulit hitam yang tak bersenjata, Trayvon Martin. Alicia Garza bersama kedua rekannya yakni wanita kulit hitam lainnya, Patrisse Cullors dan Opal Tometi membentuk organisasi Black Lives Matter Global Network Foundation, Inc. yakni sebuah organisasi global di AS, Inggris, dan Kanada, yang misinya adalah memberantas supremasi kulit putih dan membangun kekuatan lokal untuk campur tangan dalam kekerasan yang ditimbulkan pada komunitas Kulit Hitam oleh negara dan warga. Dilansir dari situs web Black Lives Matter, menjelaskan bahwa dengan memerangi dan melawan tindakan kekerasan ini, dapat menciptakan ruang untuk imajinasi dan inovasi kulit hitam, dan memusatkan kegembiraan kulit hitam, warga kulit hitam memenangkan peningkatan langsung dalam hidupnya. Lalu apa yang dilakukan pengguna TikTok dalam gerakan aktivisme ini? TikTok memiliki peran penting dalam Black Lives Matter, dengan mempopulerkannya sebagai tren di halaman Discover (halaman utama) dengan tagar yang disaksikan lebih dari 23 miliar kali. Salah satu konten video yang popular milik pengguna bernama Kareem Rahma dengan isi konten saat protes gerakan BLM di Minneapolis, daerah dimana Pembunuhan George Floyd oleh polisi bernama Derek Chauvin terjadi.

Di Indonesia sendiri, penggunaan aktivisme digital terjadi saat beberapa lalu yakni cuitan tagar di Twitter #ReformasiDikorupsi. Dilansir dari Alinea.id, Generasi Zoomers yang dikira apolitis akhirnya terlibat dalam aktivisme digital yang mengangkat isu korupsi, HAM dan isu sarat politik lainnya. Generasi Zoomers bahkan memobilisasi massa untuk turun ke jalan dan melakukan aksi yang disebut-sebut sebagai aksi mahasiswa terbesar setelah Reformasi 1998. Hasilnya, pengesahan sejumlah rancangan undang-undang ditunda. Adanya pandemi COVID 19, keterlibatan Generasi Zoomers dalam aktivisme digital semakin tampak. Kebijakan belajar dari rumah meningkatkan penggunaan internet dan memberikan banyak waktu untuk beraktivitas di media sosial. Hal itu memperbesar kesempatan Generasi Zoomers menjadi audiens atau bahkan partisipan sebuah aktivisme digital yang sedang berlangsung.

Kesimpulan dari artikel ini melalui kajian pustaka adalah penggunaan media sosial di bidang pendidikan memang menguntungkan, a perlkan tetapi lebih banyak penelitian dan model lebih lanjut untuk penerapannya dalam kegiatannya. Penggunaan media sosial tidak selalu berdampak negatif. Apabila memiliki tujuan positif seperti melakukan aktivisme dengan cara menyebarluaskan informasi atau mengumpulkan ilmu baru yang bersifat sengaja maupun tidak disengaja. Hasil studi ini menyatakan bahwa penggunaan sosial media TikTok oleh Generasi Zoomers mampu mewujudkan suatu makna dan sense of self akibat dari interaksi sosial yang konstan sesama pengguna. Dengan adanya interaksi sosial, masing-masing pengguna akan mengartikan sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut, lalu dari adanya pertukaran perspektif tersebut muncullah berbagai realitas dalam hidupnya. Karena masing-masing pengguna atau individu merupakan makhluk yang unik dan memiliki sdudut pandang yang berbeda-beda.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

28 − 19 =