Strategi UMKM Berbasis Digital di Masa Pandemi

Adanya pandemi Covid 19 mendorong transformasi digital di segala sektor terutama pada UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) agar bias menjangkau pasar secara luas. Septriana Tangkary, Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kominfo, menyampaikan, di masa pandemi, UMKM diharapkan berpindah ke platform online seperti e-commerce, agar bisa memutus rantai penularan dengan social distancing dan dapat menjangkau lebih banyak konsumen. Perkembangan bisnis pada e-commerce dengan serangkaian strateginya memberikan pengaruh penting bagi UMKM. Laporan DSInnovate salah satunya, DSInnovate yaitu memberikan dampak sosial-ekonomi bagi pelaku usaha melalui jangkauan pasar secara luas. Perdagangan digital memang harus menjarah pada perkembangan UMKM kita di masa pandemi ini. Karena selain mengentaskan gaptek, digital hadir untuk memberi dampak baik pada perekonomian Indonesia setelah anjlok karena awal pandemi.

Strategi yang harus diterapkan UMKM untuk beradaptasi pada dunia digital adalah menggunakan e-commerce. E-commerce sendiri terdiri dari Shopee yaitu sebagai platform belanja online, Tokopedia, Lazada, Blibli, Bukalapak juga sebagai platform belanja online, Traveloka sebagai platform pembelian tiket pesawat, kereta, dan hotel, dan aplikasi lainnya. Aplikasi-aplikasi tersebut hadir untuk mempermudah seller maupun customer dalam memilih maupun membeli. E-commerce memiliki banyak keuntungan bagi UMKM seperti, membantu mengurangi biaya operasional, termasuk sewa toko, etalase produk, strategi pemasaran, serta logistik. Dengan demikian, penjual tidak lagi membutuhkan biaya pengeluaran yang mahal dan rawan kegagalan. Seller hanya perlu aktif mempromosikan dengan macam-macam strategi pemasarannya. UMKM tidak hanya berkembang di e-commerce saja namun juga menjarah pada sosial media apapun.

Berdasarkan survei DSInnovate, Tokopedia menduduki peringkat teratas sebesar 49 persen sebagai e-commerce yang paling sering digunakan sebagai media berjualan online. Shopee dan Lazada menyusul dengan 45 persen dan 3 persen. Adapun contoh strategi penjualan melalui e-commerce yaitu, penjualan kripik kaca. Kripik kaca dapat dipasarkan melalui Shopee, Tokopedia dan lain-lain. Dengan memberikan jumlah stok yang ada, rincian detail produk, dan variasi si kripik kaca akan menarik dan memudahkan customer untuk membeli produk tersebut. Tidak hanya makanan, bahkan obat, pakaian, kebutuhan rumah tangga bahkan hampir semua kebutuhan primer maupun sekunder dapat dibeli di platform belanja online. Hingga sampai bagaimana seller se-kreatif mungkin dalam memasarkan.

Selain menjarah di e-commerce, media sosial tidak kalah memiliki kekuatan besar sebagai strategi mengembangkan UMKM. Instagram, Twitter, Facebook, Youtube, merupakan deretan media sosial yang penting dalam mengembangkan UMKM. Mengapa media sosial juga memiliki kekuatan besar dalam mengembangkan UMKM? Sebab deretan sosial media tersebut dimiliki oleh warga Indonesia dari kalangan usia. Nah, karena media sosial tersebut banyak diakses maka dengan mengembangkan UMKM didalamnya dapat pula dijangkau customer secara luas. Bahkan media sosial tidak terbatas pada wilayah Indonesia saja namun mendunia, sehingga berpotensi untuk go-internasional. Selain itu, adanya selebgram yaitu influencer yang memiliki  follower ratusan ribu hingga jutaan di media sosial seperti instagram. Mereka membuka endorsement untuk bekerja sama saling simbiosis mutualisme. Influencer mendapat uang dan penjual mendapat customer yang banyak karena produknya telah dipromosikan oleh si influencer tersebut. Sehingga, e-commerce dan sosial media adalah platform digital yang sama-sama memiliki kekuatan untuk mengembangkan UMKM.

https://youtu.be/rAJZX-6udD4

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 43 − 37 =