Urgensi Literasi Digital Di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini Indonesia berada di era revolusi Industri 4.0. Dalam pandangan Angela Markel (2014), definisi dari revolusi industri 4.0 adalah transformasi yang komprehensif yang menyelimuti keseluruhan aspek produksi dan industri lewat peleburan teknologi digital dan internet dengan industry konvensional. Di Indonesia, revolusi industry 4.0 bahkan sudah menjadi acuan dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut menjadi suatu tantangan bagi masyarakat Indonesia agar bisa menggunakan dan memanfaatkan dengan bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Menghadapi era revolusi industry 4.0 ini, masyarakat Indonesia perlu mengenal adanya literasi. Literasi merupakan suatu kemampuan membaca dan menulis. Literasi memiliki peran yang sangat penting dan harus dicermati oleh setiap individu. Sebab, literasi sangat erat kaitannya dengan keahlian berkomunikasi, berpikir kritis, kolaborasi, inovatif, dan kreatif. Keahlian tersebut merupkan aspek penunjang yang sangat penting dalam menghadapi revolusi industry 4.0 dan menjalani kehidupan yang lebih kompleks di masa depan.

Literasi tidak hanya kemampuan membaca dan menulis saja. Literasi juga memiliki banyak jenis seperti, literasi sains, literasi hukum, literasi digital, literasi budaya, literasi financial dan lainnya. Dilansir dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan , ada enam jenis literasi yang wajib dimiliki yaitu literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi financial, literasi kebudayaan dan kewarganegaraan, dan literasi digital.

Indonesia telah menapaki era digital 4.0 yang ditandai dengan bergeraknya berbagai sektor kehidupan ke arah digital secara otomatis. Berkembangnya peralatan digital dan akses iformasi dalam bentuk digital mempunyai tantangan sekaligus peluang. Salah satu kekhawatiran yang muncul adalah banyaknya jumlah generasi milenial yang mengakses internet. Mereka menghabiskan waktu meraka kurang lebih 5 jam setiap harinya. oleh karena itu, peran literasi digital sangat penting untuk membatasi dampak negatif dalam perkembangan digital.

Menurut Paul Gilster dalam bukunya yang berjudul Digital Literacy (1997), literasi digital diartikan sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melauli piranti komputer. Setiap indivdiu perlu memahami bahwa literasi digital saat ini menjadi sebuah kebutuhan. Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang lahir di era digital dengan akses terhadap teknologi yang luas dan tak terbatas akan memiliki pola pikir berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka dituntut dan harus bisa mempertanggungjawabkan teknologi yang mereka gunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Teknologi digital di era revolusi industry 4.0 memungkinkan terjadinya komunikasi tanpa batas dan akses informasi yang luas. Sayangnya, dunia digital saat ini semakin banyak dipenuhi berita bohong (hoaks), ujaran kebencian, pornografi, radikalisme, bahkan banyak oknum yang memanfaatkan dunia digital untuk Pratik penipuan. Keberadaan konten negatif yang merusak ekosistem digital saat ini hanya bisa ditangkal dengan kesadaran masing-masing individu.

Menerapkan kemampuan literasi digital berarti mampu memproses berbagai innformasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi secara efektif degan orang lain dalam berbagai bentuk. Dalam hal ini, bentuk yang dimaksud termasuk menciptakan, melakukan kolaborasi, komunikasi, dan bekerja sesuai aturan, serta memahami kapan dan bagaiamana teknologi harus digunakan agar tercapai efektifitas kerja. Termasuk kesadaran dalam berpikir kritis terhadap berbagai dampak positif dan negatif yang mungkin terjadi akibat dari penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Literasi digital mennjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat saat ini. Upaya meningkatkan literasi digital masyarakat ada delapan elemen penting (AJ. Bellshaw, 2011) yakni elemen kultural, kognitif, konstruktif, komunikatif, kepercayaan diri, kreatif, kritis, dan bertanggung jawab secara sosial. Hal tersebut berarti pendekatan multi-dimensi diperlukan masyarakat untuk melek teknologi sekaligus cerdas, kreatif, dan berbudaya.

Literasi digital sangat penting untuk diimplementasikan dalam pennggunaan teknologi secara optimal. Elemen penting dalam literasi digital telah menunjukkan bahwa literasi digital tidak hanya melibatkan kemampuan menggunankan perangkat teknologi, informasi, dan komunikasi, tetapi juga kemampuan bersosialisasi, kemampuan pembelajaran, dan etika dalam peggunannya. Jika masyarakat utamanya generasi muda kurannng menguasai kompetensi digital, hal ini akan sangat beresiko bagi mereka untuk tersisih dalam persaingan memperoleh pekerjaan, paritisipasi demokrasi, dan interaksi sosial karena literasi digital merupakan kecakapan (life skills). Sehingga, yang terjadi adalah meningkatnya potensi keterpurukan bangsa akibat rendahnya kemampuan literasi yang dimiliki. Dengan begitu, berarti bahwa teknologi telah mengalahkan bangsa itu sendiri.

Oleh karena itu, perkembangan tekologi yang pesat di era industri 4.0 harus dibarengi dengann penguatan karakter literasi digital agar bisa memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Sehingga, akan menghasilkan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif dalam memanfaatkan teknologi digital dan bersaing di era industri 4.0. 

Daftar Pustaka

Markel, A. (2014) , Speech by Federal Chancellor Angela Markel to the OECD Conference. Dilansir dari https://www.bundesregierung.de/Content/EN/Reden/ diakses pada tanggal 5 April 2022.

Glitser, P. (1997), Digital literacy. New York : Wiley Computer Publication.

Belshaw, D. (2012). What is ‘digital literacy’? A pragmatic Investigation (Doctoral Dissertation, Durham University). http://etheses.dur.ac.uk/3446/1/Ed.D.thesis(FINAL_TO_UPLOAD).pdf.

Gerakan Literasi Nasional. (2021). Diakses pada tanggal 5 April 2022, dari

https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/

Link Youtube : https://youtu.be/n5iEVcr-Hl0

You may also like...

1 Response

  1. May 20, 2022

    […] itu, Program Adopsi Teknologi Digital 4.0 membidik 30 ribu pelaku UMKM yang nantinya akan diberi pendampingan berupa pelatihan hingga […]

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 84 − 78 =