LITERASI DIGITAL (PERPUSTAKAAN) DI ERA ADAPTASI KEBIASAAN BARU

Menyikapi pandemi Covid-19 sampai dengan pertengahan Tahun 2020 belum juga berakhir. Masyarakat Indenesia dihimbau untuk menerapkan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) agar dapat hidup produktif dan tetap terhindar dari penularan Covid-19 yang sudah menelan banyak korban jiwa. Untuk itu pemerintah telah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19 di tengah masyarakat, seperti diwajibkan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, melakukan pengukuran suhu tubuh dengan menggunakan thermogun sebelum memasuki tempat tertentu, sering mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air mengalir, serta selalu membawa handsanitizer sebagai alternatif untuk membersihkan tangan di kala tidak ada air dan sabun.

Dalam masa sekarang ini Literasi digital atau diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, dan berpikir kritis tentang ide-ide sangat penting mengingat banyak masyarakat yang melakukan work from home atau bekerja di dalam rumah.

Perpustakaan sebagai institusi yang memiliki fungsi memberikan informasi pelayanan informasi kepada masyarakat dalam menghadapi Adaptasi Kebiasaan Baru dituntut untuk bisa bertranformasi dan beradaptasi dengan perubahan ini. Terutama dalam hal menyimpan koleksi atau sumber informasi, mendiseminasikan, dan mengkomunikasikan informasi kepada pustaka. Hal ini dikarenakan informasi dan pelayanan pemustaka harus tetap tumbuh dan berkembang untuk melanjutkan khazanah koleksi atau sumber informasi, mendiseminasikan, dan mengkomunikasikan informasi kepada pemustaka.

Adanya Covid-19 di awal Tahun 2020 banyak memberikan dampak terhadap aktivitas normal yang dilakukan manusia. Dampak ini juga terasa pada kegiatan di perpustakaan yang selama ini dilakukan. Aktivitas penghentian layanan perpustakaan secara manual untuk menghindari kontak langsung dengan pemustaka sebagai tindakan dalam pencegahan dan penularan Covid-19. Adanya penghentian layanan perpustakaan secara manual digantikan dengan pepustakaan berbasis online. Hal ini dikarenakan Transformasi perpustakaan diperlukan karena seiring adanya perubahan era maka mengakibatkan adanya perubahan kebutuhan informasi dan perilaku pencarian informasi pemustakanya. Zaman sekarang pemustaka ingin serba cepat dan mudah dalam memenuhi kebutuhan informasinya. Apalagi saat ini sudah memasuki era digital yang ditandai dengan setiap manusia secara umum memiliki gaya hidup baru yang tidak bisa dilepaskan dari perangkat serba elektronik. Media massa juga sudah beralih ke media baru atau internet, sehingga ada pergeseran budaya dalam sebuah penyampaian informasi.

Dengan adanya perpustaan online dapat mengubah kultur akses informasi perpustakaan pada era digital dan masa adaptasi kebiasaan baru ini yang membuat pemustaka sekarang lebih nyaman melakukan pencarian buku melalui katalog online (Nurrohmah, 2021). Hal ini menjadikan sudah banyak perpustakaan di Indonesia yang memiliki katalog online berupa Online Public Acces Catalog (OPAC). Salah satu layanan yang dapat diberikan oleh perpustakaan adalah dengan menyediakan digital collection berupa e-book, e-magazine, e-paper, dan lain-lain. Perpustakaan juga dapat menyediakan library application on smartphone yang didalamnya sudah terdapat segala bentuk informasi, notifikasi, maupun reminder dari perpustakaan yang disampaikan kepada pemustaka melalui smartphone. Dari segi manajemen perpustakaan juga harus memiliki kemampuan penuh untuk menemukan kembali, merancang ulang dengan cepat dan fleksibel, baik secara fisik dan virtual untuk berkolaborasi dengan komunitas tertentu yang merupakan pemustakanya.

Dalam mewujudkan terselenggaranya literasi digital maka perpustakaan harus bertransformasi menjadi perpustakaan digital. Perpustakaan digital menurut Siregar (2008) merupakan terjemahan langsung dari kata digital library, yaitu konsep perpustakaan digital seperti: perpustakaan elektronik, perpustakaan maju, perpustakaan hibrida, perpustakaan tanpa dinding, dan masih banyak lagi.

Lampiran :

sumber referensi:

Nurrohmah, O. (2021). N-JILS Literasi Digital Di Era Adaptasi Kebiasaan Baru. 4(1), 103–114.

Siregar, A.R. (2008). Perpustakaan Elektronik: Definisi, Karakteristik Dan Penanganannya. Retrieved December 20,
2020, from
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/1810/08E00530.pdf?sequence=2&isAllowed=y

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha + 68 = 70