Dampak Positif Literasi Digital Dalam Menjunjung Tinggi Nilai – Nilai Pancasila

Dewasa ini perkembangan teknologi semakin pesat, dan akses untuk berkomunikasi dan menerima informasi dapat diperoleh dengan cepat dan mudah. Bahkan, hampir semua orang di dunia ini menginginkan hal-hal yang lebih praktis dan efisien. Namun dibalik semua kecanggihan yang ada di era digital saat ini, pasti ada pengaruh positif dan negatif manusia. Oleh karena itu, literasi digital diperlukan sebagai referensi untuk fokus yang lebih besar dalam memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Dalam bidang teknologi khususnya informasi dan komunikasi, literasi digital mengacu pada kemampuan pengguna untuk menggunakan teknologi dengan sebijaksana mungkin untuk menghasilkan interaksi dan komunikasi yang positif. Sehingga generasi muda khususnya anak sekolah dan pelajar dapat melihat dan memahami informasi apa yang perlu diserap dan sumber kebenaran apa yang perlu dicari kembali. Karena semakin canggih teknologi dan informasi, semakin banyak orang yang tidak bertanggung jawab atas informasi yang mereka publikasikan.

Memahami dan menerapkan literasi digital akan memungkinkan generasi muda untuk berpartisipasi dalam dunia modern saat ini. Literasi digital menciptakan masyarakat dengan pemikiran dan perspektif yang kritis dan kreatif. Oleh karena itu, mereka tidak mudah tertipu dengan segala sesuatu yang berbasis digital, seperti menjadi korban laporan palsu. Efek positif kompetensi digital termasuk mendukung proses pembelajaran. Anda dapat membedakan sumber belajar yang benar, bermakna, dan dapat mendatangkan manfaat. Hal ini juga membuka peluang bagi guru dan dosen untuk lebih produktif dalam menciptakan media pendidikan digital.

Di era digital seperti sekarang ini, nasionalisme merupakan sikap yang perlu ditumbuhkembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menumbuhkan sikap ini membutuhkan literasi digital. Menurut Smith, nasionalisme adalah suatu bentuk ideologi politik dan dapat juga digambarkan sebagai budaya politik. Aktivitas luas di ruang digital terjadi karena masyarakat merasa kehadiran mereka di ruang digital bukan bagian dari realitas mereka. Hal ini menuntut pemerintah untuk memberikan bukti nyata dan juga memberikan pemahaman kepada kita tentang apa yang kita lakukan ketika kita beroperasi di ruang digital. Tentunya di era digital, nilai-nilai nasionalisme harus ditanamkan melalui pendidikan digital agar masyarakat melakukannya. Ketetapan MPR Nomor VI/MPR/2001 tentang Etika Hidup Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat menguraikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berpikir, bertindak, dan berperilaku yang mencerminkan nilai-nilai agama dan budaya yang mendarah daging. dalam kehidupan sosial.
Empat dasar yang diajarkan dalam budaya digital adalah:
1. Pengetahuan Dasar Pancasila dan Bineka Tungal Ika sebagai dasar kehidupan budaya, bangsa, dan bahasa Indonesia.
2. Pengetahuan dasar untuk membedakan informasi yang tidak sesuai dengan nilai pancasila di mesin pencari;
3. Mengetahui pentingnya multikulturalisme dan keragaman, bagaimana bahasa, seni, dan budaya daerah dilestarikan dalam ruang digital Pengetahuan dasar untuk memahami apa yang dapat dilakukan.
4. Pengetahuan dasar yang mendorong perilaku mencintai produk dalam negeri dan pemahaman tentang kebebasan berekspresi dan hak untuk mengakses hak kekayaan intelektual di dunia digital.

Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan Pancasila dan berpegang pada pandangan hidup tersebut, Indonesia dapat mempertahankan jati diri dan eksistensi bangsanya. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa nasionalisme di benak Gen Z saat ini, membuat mereka lebih tahan terhadap dampak teknologi yang semakin cepat. Oleh karena itu, nilai-nilai pendidikan Pancasila harus diterapkan dalam kaitannya dengan pengetahuan diri setiap individu. Evolusi digital ini memiliki banyak manfaat dalam hal dampak positif dan negatif.

Karakteristik ruang digital dapat digunakan untuk mendorong penyebaran konten yang menghambat perkembangan nasionalisme. Ruang digital dapat mempercepat radikalisasi, yang memaksa Kementerian Komunikasi dan Informatika gencar menyebarluaskan budaya digital ke semua kalangan, khususnya Generasi Z. Kementerian Komunikasi dan Informatika memiliki empat kerangka kerja literasi digital, salah satunya adalah budaya digital yang mengajarkan. visi nasional. dalam mode digital. Empat kerangka kerja literasi digital meliputi keterampilan digital, etika digital, dan keamanan digital. Dalam budaya digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika memperkuat kemampuan individu masyarakat untuk membentuk visi kebangsaan, nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, budaya digital dibenamkan dengan landasan yang memuat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan budaya, kehidupan berbangsa dan bernegara, yang menjadi dasar pembeda segala informasi dengan nilai-nilai Pancasila di dunia digital ruang, pemahaman dasar tentang makna multikulturalisme di ruang digital, dasar-dasar pemahaman kebebasan berpendapat dan hak intelektual di ruang digital, dan dasar-dasar menciptakan perilaku yang mencintai produk dalam negeri.

Nama : Claira Jennifer

NIM : 8111421722

Mata Kuliah : Literasi Digital dan Kemanusiaan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Captcha 81 − 79 =