Pengaruh media sosial Instagram terhadap gaya hidup remaja

Pada zaman modern terutama era society 5.0 seperti sekarang saat ini, kita manusia tidak bisa lepas dengan internet. Internet sudah menjadi gaya hidup sehari-hari masyarakat modern. Hal tersebut tentu tidak mengherankan mengingat dizaman sekarang ini segala hal tersedia di internet. Mulai dari sarana belajar, bekerja, mencari hiburan bahkan bersosialisasi dengan pengguna internet dari seluruh dunia. Semuanya dapat dilakukan dengan mudah dan praktis melalui layar kaca dan sambungan internet. Terutama setelah terjadinya pandemic covid-19 yang mengharuskan orang-orang diseluruh dunia untuk stay at home, penggunaan internet jadi lebih luas dan besar lagi.

Di internet terdapat bermacam-macam platform yang dapat diakses dan digunakan sesuai keperluan penggunanya. Ada yang berbayar dan ada pula yang gratis. Salah satu platform tersebut adalah media sosial.

Menurut laman Wikipedia “media sosial atau sering juga disebut sebagai sosial media adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya”. Media sosial merupakan salah satu platform internet yang paling banyak digunakan dan digemari oleh berbagai kalangan usia, status, ras maupun negara. Diantara media sosial adalah seperti youtube, meta, whatsapp, Instagram dan masih banyak lagi.

Salah satu media sosial tersebut adalah Instagram, menurut Wikipedia “Instagram adalah sebuah aplikasi berbagi foto dan video yang memungkinkan pengguna mengambil foto, mengambil video, menerapkan filter digital, dan membagikannya ke berbagai layanan jejaring sosial, termasuk milik Instagram sendiri”. Instagram sangat digemari terutama oleh generasi muda untuk membagikan kehidupan pribadinya. Mulai dari kegiatan sehari-hari, liburan, promosi produk dan usaha, publikasi karya, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam media sosial Instagram terdapat sebuah fitur follow dan follow back, dimana kitab isa mengikuti dan balik mengikuti orang yang kita sukai. Dengan mengikuti seseorang maka kita dapat melihat seluruh aktivitasnya saat menggunakan Instagram. Semakin banyak follower yang mengikuti di Instagram akan semakin baik terutama jika sebuah akun sudah terverifikasi oleh Instagram, pemilik akun dapat memperoleh tawaran endorsement dan mendapat penghasilan dari Instagram.

Namun, fitur tersebut tidak selamanya menguntungkan, terdapat pula efek negatif yang mengikutinya. Karena tergila-gila pada jumlah follower seseorang terutama remaja yang masih memiliki jiwa pamer yang tinggi akan berusaha agar halaman feednya supaya terlihat sebaik mungkin. Terkadang hal itu terlalu dipaksakan dan berakhir tidak baik pada kesehatan mental remaja tersebut.

Pada tahun 2017, Royal Society for Public Health – Young Health Movement (RSPH-YHM) melakukan survei berjudul #StatusOfMind pada remaja dan dewasa muda (16-24 tahun) di Inggris. Survei itu mengungkap bahwa Instagram merupakan media sosial yang memiliki dampak paling buruk bagi kesehatan mental. Instagram berkaitan erat dengan tingkat kecemasan yang tinggi, depresi, bullying, dan FOMO (fear of missing out—fobia ketinggalan berita di jejaring sosial). FOMO dapat menyebabkan penggunaan media sosial yang berlebihan (RSPH, 2017). Hasil dari survei tersebut menyatakan bahwa tingkat depresi dan kecemasan pada anak muda mengalami kenaikan sebesar 70% dalam 25 tahun terakhir, dan ini berkaitan erat dengan penggunaan media sosial berat.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh We Are Social dan Hootsuite, hingga Oktober 2020 Instagram telah memiliki 1.158 juta pengguna aktif (Hootsuite, 2020). Survei yang dilakukan oleh lembaga riset Piper Jaffray terhadap responden remaja Amerika Serikat menunjukkan bahwa 33% remaja berusia 13-19 tahun cenderung lebih banyak mengakses Instagram dibanding media sosial yang lain (Seetharaman, 2015). Di Indonesia sendiri, pengguna Instagram didominasi oleh rentang usia 18-24 tahun yaitu sebanyak 59% (Yusra, 2016).

Sebuah penelitian juga mengungkapkan bahwa remaja yang terlalu lama menghabiskan waktu di Instagram memiliki resiko lebih besar untuk mengalami insecure akan profil tubuhnya dan mengalami gangguan makan seperti bulimia nervosa. Hal ini dikarenakan ingin memiliki tubuh yang ‘body goals’ seperti para selebgram yang dilihat setiap harinya.

Senin, 18 April 2022

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 20 − = 13