Membangun Karakter Bangsa Melalui Literasi Digital

Perkembangan teknologi saat ini terjadi begitu pesat dan telah mendominasi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi ini sejalan dengan adanya arus globalisasi yang terjadi, sehingga berpengaruh besar dalam segala aspek kehidupan manusia.

Seorang ilmuwan politik Amerika Serikat, Philip Huntington (1993) dalam sebuah bukunya yang berjudul “The Clash of Civilizations and The Remarking of Word Order” berpendapat bahwa setelah berakhirnya perang dingin, sumber konflik utama yang dihadapi umat manusia bukan lagi masalah ideologi dan ekonomi, tetapi bersumber pada perbedaan kebudayaan. Seiring berjalannya waktu, budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik yang dominan yang pada akhirnya akan memicu konflik global yang terjadi antarbangsa dan antarkelompok manusia karena adanya perbedaan peradaban mereka. Konflik peradaban ini akan menjadi fase terakhir dari evolusi konflik pada dunia modern.

Pendapat yang diperkirakan oleh Huntington tersebut menjadi pendorong terciptanya gagasan bahwa penting sekali bagi setiap warga negara untuk bersama-sama mengobarkan semangat literasi digital sebagai upaya untuk membangun karakter bangsa. Di era perkembangan teknologi saat ini, literasi digital menjadi sangat penting untuk menjadi sebuah pedoman bagi masyarakat di tengah maraknya informasi-informasi hoax yang begitu liar dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat dari seluruh kalangan. Informasi hoax ini memiliki pengaruh yang sangat dahsyah terhadap semakin tereduksinya nilai-nilai pendidikan karakter yang harusnya semakin dikuatkan untuk membangun karakter dan peradaban bangsa yang lebih baik.

Literasi digital pertama kali dikemukakan oleh Paul Gilster (1997), Gilster menyatakan bahwa literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari peranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karir, dan kehidupan sehari-hari (Dyna Herlina S: 2017). Pernyataan lain juga dikemukanan oleh Martin (2008), literasi digital merupakan gabungan dari beberapa bentuk literasi, yaitu komputer, informasi, teknologi, visual, media, dan komunikasi. Sehingga literasi digital ini dikatakan sebagai ketrampilan yang bersifat multi dimensi.

Dari pemaparan sebelumnya, dapat diketahui bahwa literasi digital sangatlah penting bagi sebuah bangsa. Literasi digital tentu saja tidak dapat terlepas dari genggaman generasi muda saat ini, dimana informasi dapat ditemukan di mana saja terutama melalui media sosial. Generasi muda saat ini atau generasi milenial adalah aset masa depan bangsa yang berperan besar dalam membangun peradaban bangsa yang berkarakter di masa depan. Generasi milenial ini terkenal dengan kepiawaiannya dalam mengakses informasi dari internet dengan sangat cepat. Menurut sebuah penelitian, generasi milenial ini hampir setiap harinya mengakses internet kurang lebih 6 jam perhari. Tingginya angka penggunaan internet pada generasi milenial ini tentu akan menimbulkan dampak negatif jika pemahaman mengenai literasi digital tidak dikuasai dan tidak membangun karakter generasi milenial tersebut. Lalu, strategi apa yang dapat dilakukan untuk membangun karakter bangsa melalui literasi digital ini?

            Pemerintah telah melalukan berbagai macam strategi untuk membangun literasi digital bangsa, salah satunya dengan membentuk Gerakan Literasi Nasional. Gerakan Literasi Nasional (GLN) merupakan salah satu upaya pemerintah yang diberikan kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan membangun literasi kepada seluruh masyarakat. Gerakan Literasi Nasional didalamnya melingkupi Gerakan Literasi Sekolah (GLS), Gerakan Literasi Keluarga (GLK), dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM).

            Gerakan Literasi Sekolah sebuah gerakan dalam upaya menumbukan budi pekerti pada siswa dengan tujuan supaya siswa memiliki budaya membaca dan menulis yang tinggi. Beberapa hal yang ada dalam Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yaitu siswa diwajibkan membaca 15 menit setiap harinya, tersedianya sarana dan prasarana literasi berupa perpustakaan sekolah atau tempat membaca, adanya gerakan membaca dan menulis di sekolah, pelatihan ketrampilan menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual dan auditori, mengajarkan tentang literasi digital kepada seluruh siswa dan lain sebagainya. Gerakan Literasi Sekolah ini dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan semua warga sekolah baik guru, peserta didik, orang tua atau wali murid, dan masyarakat.

            Universitas Negeri Semarang (UNNES) merupakan salah satu Universitas di Indonesia yang mengajarkan mata kuliah Literasi Digital dan Kemanusiaan. Mata kuliah tersebut dirancang dengan tujuan agar mahasiswa memiliki kecakapan sekaligus kearifan hidup di masyarakat digital seperti sekarang ini maupun di masa depan. Dengan Mata Kuliah tersebut mahasiswa diberikan pengetahuan untuk memanfaatkan teknologi digital secara produktif sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Beberapa topik yang diajarkan seperti big data, data maining, kecerdaan buatan (artificial intelligence), e-commerce, dan media sosial.

            Gerakan Literasi Keluarga (GLK) adalah suatu program pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan minat baca anak. Gerakan Literasi Keluarga ini merupakan langkah dalam membentuk peran anggota keluarga untuk memaksinalkan sumber daya yang dimiliki oleh keluarga tersebut guna membentuk karakter positif pada diri setiap anak di Indonesia. Adapun beberapa hal yang diatur dalam Gerakan Literasi Keluarga, yaitu orang tua harus mengupayakan lingkungan yang ramah literasi dengan menyediakan bahan pustaka di rumah, orang tua harus mencari lingkungan tinggal yang memiliki budaya membaca dan menulis yang baik untuk keluarganya, orang tua memberikan pemahaman tentang literasi digital yang baik kepada anaknya, memiliki komitmen untuk mencintai ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

            Gerakan Literasi Masyarakat (GLM) adalah suatu gerakan pemberdayaan masyarakat yanag bertujuan untuk meningkatkan literasi kepada masyarakat agar menjadi masyarakat yang berkualtas dan dapat membangun peradaban yang baik bagi suatu bangsa. Beberapa hal yang diatur dalam Gerakan Literasi Masyarakat, contohnya pemerintah daerah, kecamatan dan desa atau kelurhan dapat meyediakan sarana dan prasarana literasi seperti sudut baca, taman membaca masyarakat, perpustakaan, dan lain sebagainya.

            Itulah beberapa strategi yang telah dilakukan pemerintah untuk membentuk karakter bangsa yang baik melalui literasi digital. Strategi tersebut tentunya membutuhkan dukungan dari kita semua sebagai warga negara. Oleh karena itu, marilah bersama-sama menumbuhkan semangat literasi digital untuk menyelamatkan pola perilaku masyarakat di tengah gempuran era Revolusi 4.0 sebagai upaya membangun karakter bangsa yang kokoh.

Referensi :

Allan Martin, (2008) Digital Literacy ant the ‘Digital Society’ dalam Lankshear, C and Knobel, M(ed). Digital literacies: concepts, policies and practices. Die Deutsche Bibliothek.

Dyna Herlina S, Membangun Karakter Bangsa Melalui Literasi Digital. Retrieved from http://staff.uny.ac.id/sites/…msc/membangun-karakter-bangsa-melaluiliterasi-digital.pdf 

Atikah

Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Tahun 2021

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha − 1 = 5