IMPLEMENTASI LITERASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI ERA DISRUPTIF

IMPLEMENTASI LITERASI DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH DI ERA DISRUPTIF

Pendidikan mengalami perkembangan yang pesat pula,
diantaranya dengan munculnya sistem pembelajaran secara digital, (Munir, 2017:1).

Dampak nyata dari pesatnya perkembangan akses informasi yang kita kenal dengan sebutan revolusi industry 4.0, terhadap dunia pendidikan berakibat pada kebutuhan desain dan mekanisme pembelajaran secara digital dan sudah merupakan suatu keharusan terhadap setiap insan pendidikan. Oleh sebab itu, pembelajaran digital harus diawali dengan perencanaan yang baik, kemudian cara materi pembelajaran disampaikan (delivery content) kepada pembelajar yang harus mengacu pada perencanaan tersebut.

Ruang lingkup kompetensi bagi seorang pengajar dalam pembelajaran digital meliputi perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran, keterampilan penyajian baik verbal maupun non verbal, kerjasama tim, keterampilan strategi bertanya, keahlian dalam penguasaan materi pembelajaran, melibatkan pembelajar dalam pembelajaran dan koordinasi aktivitas belajarnya, pengetahuan tentang teori belajar, pengetahuan tentang pembelajaran digital, pengetahuan tentang perencanaan pembelajaran, dan penguasaan media pembelajaran.

Purdy dan Wright (1992) dalam Munir (2017: 5) mengemukakan bahwa terdapat pergeseran dan perbedaan paradigma pola pembelajaran antara pembelajaran yang tidak melibatkan teknologi dengan pembelajaran yang menggunakan teknologi dan antara konsep pembelajaran di kelas (classroom setting) dengan pembelajaran terbuka atau pembelajaran digital yang tidak harus selalu di kelas. Model tersebut memiliki perbedaan dari segi gaya mengajar, teknik serta motivasi pembelajar dan pengajar. Model pembelajaran digital merupakan model masa depan yang efektif karena sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam Pendidikan 4.0, pembelajaran terhubung langsung dengan peserta didik, berfokus pada peserta didik, didemonstrasikan oleh pembelajar dan dipimpin oleh pembelajar. Dalam hal ini pembelajar yang bertanggung jawab untuk mendefinisikan berbagai dimensi dan jalur pendidikannya – apa, di mana,kapan, bagaimana, dan mengapa ketika bergerak naik tangga belajar. Pelajar masa depan lebih sadar dan proaktif karena tingkat paparan dan panduan yang tinggi tersedia di berbagai platform, (Nusantara, 2018:16).

Bawden (2001) memperluas pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi. Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an ketika komputer mikro semakin luas dipergunakan, tidak hanya di lingkungan bisnis, tetapi juga masyarakat. Sementara itu, literasi informasi menyebar luas pada dekade 1990-an manakala informasi semakin mudah disusun, diakses, dan disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring.

Keberadaan teknologi memberi keuntungan sendiri dalam upaya menyadarkan masyarakat Indonesia bahwa budaya literasi perlu untuk ditingkatkan, karena literasimenjadi kompetensi penting yang harus dimiliki seseorang dalam upaya menghadapi zaman. Literasi digital hadir dalam rangka menjawab tantangan perkembangan zaman era4.0, khususnya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Literasi digitalberkaitan dengan kecakapan individu dalam menggunakan, mencari, dan mengolah ragam informasi yang diperolehnya melalui gawai (gadget).

Interaksi di media digital tidak saja membutuhkan kemampuan teknis mengakses teknologi tapi juga memahami konten, fungsi aktif dan interaktif memproduksi pesan. Lebih dari itu interaksi di media digital membawa konsekuensi terhadap keamanan diri, privasi, konsumsi berlebihan, menyikapi perbedaan. Konsep dan dimensi literasi digital yang dikemukakan oleh Riel et al (2012) dalam Kemendikbud (2017) bermuatan tekmologis, psikologis dan sosial. Sehingga dapat dipahami bahwa literasi digital adalah bentuk keterampilan yang kompleks yang menyangkut keterampilan baru yangn harus dimiliki manusia berhadapan dengan lingkungan digital saat ini.

Alwasilah (2012) dalam Kemendikbud (2017) mengungkapkan ada tujuh prinsip dasar literasi yang berkembang dewasa ini, adapun ketujuh prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Literasi adalah kecakapan hidup (life skills) yang memungkinkan manusia berfungsi
    maksimal sebagi anggota masyarakat;
  2. Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwcana secara
    tertulis maupun secara lisan;
  3. Literasi adalah kemapuan memecahkan masalah;
  4. Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya;
  5. Literasi adalah kegiatan refleksi (diri);
  6. Literasi adalah hasil kolaborasi;
  7. Literasi adalah kegiatan melakukan interprestasi.

Perkembangan revolusi industri, yang terjadi hingga saat ini ditandai dengan era disrupsi, yaitu kemunculan industri-industri yang berbais online/digital. Bukan hanya komputer, teknologi mobile sudah mewabah dan hampir semua orang terhubung secara online.Pendidikan di Indonesia harus mampu melakukan loncatan yang lebih maju dalam Revolusi Industri 4.0 ini , melalui pemanfaatan inplementasi teknologi digital dan komputasi ke dalam penggunaan proses pembelajaran.

Kualitas pembelajaran bersifat kompleks dan dinamis, dapat dipandang dari berbagai
persepsi dan sudut pandang melintasi garis waktu. Pada tingkat mikro, pencapaian kualitas
pembelajaran merupakan tanggungjawab profesional seorang guru, misalnya melalui penciptaan
pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa dan fasilitas yang didapat siswa untuk mencapai
hasil belajar yang maksimal. Pada tingkat makro, melalui sistem pembelajaran yang berkualitas,
lembaga pendidikan bertanggungjawab terhadap pembentukan tenaga pengajar yang berkualitas,
yaitu yang dapat berkontribusi terhadap perkembangan intelektual (hardskill), sikap, dan moral
(softskill) dari setiap individu peserta didik sebagai anggota masyarakat, (Najmi, 2012:39).

Salah satu pemanfaatan teknologi informasi adalah penggunaan literasi digital dalam
proses pembelajaran. Literasi digital dalam pembelajaran dapat dibuat dengan mengembangkan
sumber-sumber belajar berbasis teknologi informasi. Sumber belajar yang dijadikan sebagai
salah satu bentuk literasi digital setidaknya ada dua macam, yakni yang bersifat offline maupun
online. Sumber belajar yang bersifat offline adalah multimedia pembelajaran interaktif. Adapun
untuk sumber belajar digital berbasis online di antaranya adalah blog pembelajaran, dan website
sekolah. Pengajar seharusnya mengembangkan media pembelajaran yang
interaktif. Media Pembelajaran Interaktif ini dapat dibuat oleh pengajar dengan menggunakan
software-software presentasi seperti PowerPoint (Sofware yang banyak digunakan oleh
pengajar), Flash, dan sebagainya. Agar menjadi lebih interaktif, Power Point dapat
dimaksimalkan dengan animasi, video, audio, maupun visual.

Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan terkait kegiatan literasi digital di kalangan
pembelajar, antara lain literasi digital harus melibatkan berbagai pihak. Orang tua pembelajar
yang seharusnya memiliki peran lebih aktif. Kerjasama antara pihak sekolah dan orang tua
pembelajar harus menjadi konsen dalam literasi digital. Anak-anak biasanya lebih banyak
menghabiskan waktunya di luar sekolah, dan di waktu itulah biasanya mereka lebih aktif
menggunakan gadget. Gadget menjadi media penghibur anak (media as a doll). Selain itu, literasi
digital memerlukan pengajar yang aktif membimbing penggunaan gadget yang baik bagi anak,
terutama mempersiapkan berbagai bahan ajar yang terintegrasi dengan teknologi gadget.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru yaitu dengan, memulai pembelajaran dengan
mengakses sumber-sumber belajar sejarah yang sudah banyak tersedia secara digital di internet.
Sehingga dengan mendesain pembelajaran digital nantinya akan merangsang siswa untuk belajar
secara mandiri. Bawden (2008:32) mengemukakan pembelajaran mandiri dan literasi moral dan
social merupakan kualitas yang ada pada seseorang dengan motivasi dan pikiran
mendayagunakan informasi sebaik-baiknya. Hal tersebut merupakan dasar pemahaman
pentingnya infromasi serta urusan yang baik dengan sunber daya informasi dan salluran
komunikasi serta insentif untuk meningkatkan kemampuan seseorang ke tingkat yang lebih baik.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha − 1 = 1