URGENSI LITERASI DIGITAL UNTUK MASA DEPAN INDONESIA

ARTIKEL
URGENSI LITERASI DIGITAL UNTUK MASA DEPAN INDONESIA
Oleh:
Anisa Nur Suprihatindariani
Program PGSD FIP Universitas Negeri Semarang
Email: [email protected]
Abstrak: Indonesia adalah negara dengan pengguna internet terbesar keempat di dunia. Hal ini harus menjadi perhatian kita dalam mencari peluang untuk masa depan. Seiring dengan pertumbuhan pendidikan, layanan kesehatan, proses demokrasi, layanan ketenagakerjaan dan partisipasi masyarakat yang beralih ke sistem online, ini adalah tanda bahwa generasi saat ini sedang dipersiapkan untuk masa depan yang lebih menantang. Oleh karena itu, literasi digital merupakan hal yang urgen yang harus kita ajarkan kepada anak-anak sejak dini untuk menghadapi masa depan Indonesia. Literasi digital lebih dari sekedar pengetahuan teknologi, ini adalah payung bagi praktik etika, sosial, dan reflektif yang tertanam dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari. Artikel ini bertujuan untuk menggali urgensi literasi digital bagi masa depan Indonesia.
Kata Kunci: Urgensi, Literasi Digital, dan Masa Depan Indonesia

PENDAHULUAN
Literasi digital adalah keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang memungkinkan secara praktik kritis, kreatif, penuh perhatian, dan percaya diri dalam menghadapi teknologi digital di semua bidang kehidupan. Beberapa orang hanya mengaitkan literasi digital dengan keterampilan fungsional yang dapat digunakan oleh komputer atau paket perangkat lunak. Tapi literasi digital lebih dari sekedar kemampuan menggunakan komputer. Literasi digital adalah tentang kolaborasi, keamanan dan komunikasi yang efektif, tentang budaya dan kesadaran sosial menjadi lebih kreatif.
Selain keterampilan membaca, menulis, mendengar dan berbicara, saat ini muncul istilah baru yaitu literasi digital. Literasi ini mencakup pengetahuan dan keterampilan di bidang teknologi, informasi dan komunikasi. Kompetensi teknologi digital adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu dalam bekerja dan belajar.
Dalam satu dekade terakhir, teknologi digital telah menjadi budaya bagi kebanyakan orang. Ponsel banyak digunakan dari anak-anak hingga orang dewasa. Situs web seperti YouTube dan Wikipedia adalah tempat pertama banyak orang mencari informasi terkait bidang minat yang mereka pilih. Musik, Tv, dan Film dapat disimpan dan diakses dengan mudah secara online. Belanja, perbankan, dan layanan pemerintah ditawarkan berbasis Internet. Meski akses teknologi dan internet masih belum merata, media digital kini menjadi aspek sentral dari kehidupan kebanyakan orang, tanpa memandang usia. Oleh karena itu, literasi, pengetahuan, dan pemahaman digital menjadi sangat penting seiring dengan meningkatnya budaya digital di kalangan anak muda dan anak-anak.
PEMBAHASAN
Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber digital secara bertanggung jawab. Sayangnya, tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia tidak diimbangi dengan kompetensi digital yang mumpuni. Literasi digital merupakan keterampilan penting bagi siswa dari segala usia, termasuk siswa sekolah dasar. Dunia digital memungkinkan setiap orang untuk terhubung, berkolaborasi, berinovasi, dan menemukan informasi baru yang terus berkembang. Program Literasi Digital sebagai mata pelajaran yang terpisah atau menyematkan konten ke dalam pembelajaran yang lebih luas. Siswa dapat mengembangkan keterampilan pembuatan konten saat mempresentasikan pekerjaan mereka di kelas matematika atau sains, dan pendidik kemudian dapat menyematkan pesan tentang bagaimana siswa harus melindungi diri mereka sendiri di dunia modern.
Indonesia emas adalah sebuah mimpi dimana Indonesia akan berada pada puncak kejayaannya sebagai negara yang dikatakan mampu dan diyakini mampu bersaing dengan negara-negara maju dunia dalam memecahkan masalah sosial dan kenegaraan. Salah satu permasalahan yang dihadapi Indonesia adalah masih adanya kesenjangan dalam mengakses informasi melalui teknologi digital, terutama bagi masyarakat yang hidup di garis kemiskinan, tinggal di pedesaan, lanjut usia dan penyandang disabilitas.
Kesenjangan digital sendiri didefinisikan sebagai kesenjangan antara individu, rumah tangga, bisnis, dan area geografis pada level sosial-ekonomi yang berbeda terkait dengan peluang mereka dalam mengakses TIK dan penggunaannya untuk berbagai kegiatan. Definisi lain dari kesenjangan digital adalah tumbuh semakin besar antara anggota masyarakat yang kurang mampu, terutama mereka yang hidup di garis kemiskinan, pedesaan, berusia lanjut, dan penyandang disabilitas, dalam memiliki akses terhadap TIK.
Dengan literasi digital ini dapat menjadi solusi kesenjangan digital yang dihadapi negara ini untuk menuju masa depan Indonesia yang lebih cerah. Literasi digital perlu ditanamkan kepada masyarakat sejak dini khususnya anak usia sekolah dasar, literasi digital pembekalan dapat dimasukkan dalam materi pembelajaran, salah satu tujuannya agar anak lebih pintar dan lebih berhati-hati dalam berinternet khususnya menggunakan media sosial (Medsos).
Literasi digital sangat bergantung pada keterampilan membaca dan menulis dasar. Sayangnya, Indonesia secara konsisten gagal memberantas buta huruf. Meskipun mayoritas orang Indonesia dapat memahami teks sederhana dengan menggunakan kosakata dasar, mereka merasa sulit untuk memahami dan mengevaluasi teks yang panjang dan kompleks secara kritis. Faktor penyebab rendahnya tingkat literasi adalah kurangnya penekanan keterampilan berpikir kritis dalam kurikulum sekolah. Kurikulum 2013 mewajibkan penggunaan High Level Critical Thinking Skills (HOTS) namun belum terintegrasi secara utuh. Dalam praktik pendidikan Indonesia, ia berfokus pada pendekatan kuno untuk belajar. Selain masalah rendahnya kemampuan membaca dan berpikir di kalangan masyarakat umum, sekolah-sekolah di Indonesia sebagian besar masih kurang dalam mengajarkan keterampilan digital. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) termasuk sebagai mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional 2006, tetapi isinya terbatas pada keterampilan dasar seperti penggunaan komputer, aplikasi dan perangkat komputer untuk mendukung kegiatan pembelajaran. Pada tahun 2013, pembelajaran TIK ditiadakan untuk memasukkan pembelajaran TIK di semua mata pelajaran. Meskipun banyak sekolah mengabaikan mata pelajaran tersebut, guru mata pelajaran lain tidak dapat memasukkan TIK dalam rencana pelajaran mereka karena keterampilan dan pengetahuan TIK yang tidak memadai.
Pemerintah telah menginisiasi program seperti Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang didirikan pada tahun 2016 oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Ini mencakup literasi di tiga bidang: literasi di sekolah, gerakan literasi dalam keluarga, gerakan literasi di masyarakat. GLN juga membahas literasi digital, mendefinisikannya sebagai kemampuan menggunakan informasi dari sumber digital secara bertanggung jawab, termasuk tujuan mengembangkan kebiasaan belajar digital dan meningkatkan penggunaan media digital dalam pendidikan sekolah.
Literasi Digital tingkat dasar berkaitan dengan kompetensi teknis dalam menangani perangkat dan perangkat lunak digital. Dalam hal ini, Kemendikbud No. 37/2018 memperkenalkan TIK sebagai pilihan di tingkat sarjana dan mewajibkan SMP dan SMA mulai tahun 2019. Namun, masih terdapat kekurangan dalam kurikulum TIK terkait kompetensi digital. Kurikulum menempatkan fokus yang kuat pada pemahaman dan peningkatan kompetensi teknis di berbagai bidang seperti pemrograman, menggunakan aplikasi Office, dan menulis posting blog, tanpa penekanan pada cara menggunakan teknologi ini secara bertanggung jawab dan kritis. Kurikulum nasional harus didasarkan pada standar nasional pendidikan yang mencakup keterampilan berpikir kritis.
PENUTUP
Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa angka melek huruf di negara kita masih cukup rendah. Oleh karena itu, pemerintah membuat dan menggagas program GLN (Gerakan Literasi Nasional), salah satunya literasi sekolah. Sekolah adalah tempat di mana pemanfaatan teknologi diajarkan dalam semua mata pelajaran, baik dalam kurikulum sekolah dasar maupun sekolah menengah. Di masa pandemi seperti ini, sekolah membuat terobosan berupa pembelajaran berbasis kelas, yang artinya pembelajaran dilakukan di rumah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Model pembelajaran online ini memungkinkan guru untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis siswa melalui pemanfaatan media digital yang dikenal dengan literasi digital. Literasi digital merupakan salah satu keterampilan yang harus diajarkan kepada siswa, termasuk siswa sekolah dasar. Literasi digital sangat bergantung pada keterampilan membaca dan menulis dasar. Kompetensi digital ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkembang menuju generasi emas Indonesia tahun 2045 dalam lingkungan digital yang dinamis.
DAFTAR PUSTAKA
Kuntarto, Hario Bismo, Amit Prakash. 2020. Literasi Digital pada Anak-anak Sekolah Dasar. Diakom: Jurnal Media dan Komunikasi, 3 (2), 166-167.
Fairuza, N. 2021. “Urgensi Literasi Digital untuk Masa Depan Indonesia”, https://nasional.sindonews.com/read/380378/18/urgensi-literasi-digital-untuk-masa-depan-indonesia-1617026634, diakses pada 10 April 2022
Rizkinaswara, L. 2020. “Urgensi Literasi Digital bagi Masa Depan Ruang Digital Indonesia”, Urgensi Literasi Digital bagi Masa Depan Ruang Digital Indonesia – Ditjen Aptika (kominfo.go.id), diakses pada 10 April 2022
LAMPIRAN
Link Youtube : https://youtu.be/vND16p9BGN8


You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.