Racun TikTok Pengaruhi Perilaku Konsumtif Remaja? Begini Cara Mengatasinya

Beberapa tahun ke belakang ini, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan populernya platform TikTok yang kemudian menjadi trend di Tanah Air. Berbagai kalangan mulai menggunakan TikTok, seperti menyalurkan hobi, refreshing, atau bahkan melakukan bisnis online. Tak heran, hanya dalam hitungan bulan aplikasi tersebut sudah populer dengan jumlah pengguna tahun 2022 mencapai 92,07 juta, dengan mayoritas penggunanya merupakan remaja.

Selain digunakan sebagai media hiburan dan sarana informasi, TikTok juga menyediakan kemudahan bagi para pemilik bisnis online dalam beraktivitas. Disertai dengan fitur jual-beli di TikTok Shop, kini TikTok dapat dijadikan alternatif bagi masyarakat untuk membeli berbagai kebutuhan sehari-hari. Khususnya selama pandemi Covid-19 ini, dimana masyarakat memiliki keterbatasan dalam mobilitas sehari-harinya. Istimewanya, masyarakat dapat menikmati barang-barang yang dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding dengan harga di toko-toko offline. Hal tersebut dikarenakan banyaknya diskon serta promo yang diberikan oleh sistem dan seller TikTok Shop tersebut. Sehingga masyarakat pun lebih tergoda ketika berbelanja menggunakan TikTok. Dilansir dari Popmama.com, 68% pengguna TikTok gemar menggunakan voucher yang diberikan oleh para brand.

Dalam perkembangan bisnis online tersebut, remaja sebagai pengguna TikTok terbanyak menjadi target pasar yang sangat menjanjikan. Menggunakan video yang menarik sebagai bentuk marketingnya, serta honest review dari para pengguna yang telah menggunakan suatu produk, tak heran jika para remaja sering kali “kalap” dalam berbelanja setelah mendapat racun menarik dari para content creator. Produk-produk yang biasanya menjadi racun bagi para remaja meliputi pakaian, barang-barang perawatan diri, dan barang-barang aesthetic yang sering digunakan para remaja dalam mendekorasi ruangan.

Hal itu kian lama menjadi sebuah isu tersendiri di masyarakat, karena semakin sering remaja teracuni oleh berbagai produk maka semakin naik pula perilaku konsumtif mereka. Terutama ketika menjelang puncak promo di setiap bulannya. Perilaku konsumtif sendiri merupakan perilaku konsumsi yang dilakukan konsumen secara boros atau berlebihan, dengan lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan, serta tanpa adanya skala prioritas (Vicynthia, 2010). Dengan kata lain, seseorang yang membeli banyak barang akibat sikap impulsif dan berakhir dengan membuang, atau tidak menggunakannya dan hanya disimpan di suatu tempat.

Penyebab meningkatnya perilaku konsumtif pada remaja berkaitan dengan racun-racun barang di TikTok sendiri dapat berupa rasa FOMO atau fear of missing out yaitu ketakutan akan ketinggalam suatu hal yang baru dan menjadi trend di suatu kalangan. Penyebab lainnya yaitu rasa gengsi dalam pergaulan remaja, gaya hidup yang terlalu berlebihan, iklan yang menarik, dan penyebab lainnya.

Menyikapi perilaku konsumtif yang dapat terus memburuk tersebut, remaja diharuskan memahami pentingnya memilah barang yang akan dibeli ketika berbelanja di TikTok. Apakah barang tersebut berguna, bermanfaat, dibutuhkan, atau hanya sekadar rasa ingin memiliki dan keinginan sesaat saja. Dilansir dari satupersen.com, terdapat beberapa cara yang dapat diterapkan dalam berbelanja di TikTok agar perilaku konsumtif dapat dihindari dan dikurangi remaja.

  1. Membuat skala prioritas

Dengan membuat skala prioritas, maka kita akan mengetahui barang apa yang memang menjadi kebutuhan dan barang apa yang hanya merupakan keinginan. Ketika kita mengetahui mana yang merupakan prioritas dan yang hanya keinginan sesaat, keinginan dan hasrat untuk membeli barang tersebut akan berkurang sehingga perilaku konsumtif dapat dikurangi. Dalam menentukannya, kita bisa menunggu 2-7 hari, jika sampai di hari ketujuh kita masih menginginkannya dan berpikir itu adalah barang yang penting, maka kita dapat membelinya.

2. Membuat rincian pemasukan dan pengeluaran uang

Perencanaan uang sangat berguna bagi kita agar mengetahui berapa uang yang masuk dan perkiraan uang yang akan keluar. Jangan sampai uang yang keluar melebihi uang yang masuk, karena nantinya bisa menjerumus pada persoalan utang yang tentunya dapat merugikan. Perkirakan harga barang yang akan dibeli, dan berapa sisa uangnya.

3. Jadi diri sendiri

Kebanyakan perilaku konsumtif bermula dari rasa takut ketinggalan suatu trend dalam platform TikTok. Seperti ketika ada trend menggunakan abaya, sepatu tertentu, atau dekorasi kamar yang berwarna pastel, pastikan untuk mengetahui apakah hal-hal tersebut memang sesuai dengan selera kita dan sesuai dengan perencanaan keuangan yang telah dibuat. Jadilah diri sendiri dengan barang-barang yang kita punya dan belilah yang memang sesuai dengan personality kita, sehingga nantinya tidak akan terbuang sia-sia. Pilih pula barang-barang yang memang akan berguna dalam jangka panjang.

4. Menabung

Menabung dapat mengalihkan perhatian kita dalam berbelanja ini-itu, dengan menabung berarti kita berinvestasi untuk masa depan. Hasil tabungan tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan lain yang merupakan prioritas ke depannya. Sehingga perilaku konsumtif dapat dikurangi.

Beberapa cara di atas merupakan cara yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pengguna TikTok, sudah seharusnya kita menjadi pengguna yang baik dan bijak. Termasuk dalam menggunakannya sebagai platform yang menyediakan fitur jual-beli. Tidak salah jika kita membeli barang-barang dari platform tersebut, karena dengan begitu kita mendukung suatu brand, seperti produk UMKM untuk tumbuh dan berkembang sehingga dikenal masyarakat luas. Serta memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang jauh lebih murah. Namun, pastikan jika barang-barang tersebut merupakan barang yang memang kita perlukan ya sobat Millenials dan Gen-Z!

Video penjelasan dapat diakses melalui link berikut ini

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.