UPAYA PEMANFAATAN LITERASI DIGITAL DARI PENGARUH BERITA HOAKS

Media sosial atau sering juga disebut sebagai sosial media adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berkomunikasi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya.


Media online yang sering digunakan yaitu Instagram, Tiktok, Youtube, Twitter, dan lain sebagainya. Di era teknologi seperti ini, masyarakat khususnya mahasiswa bebas menyampaikan pendapat atau opininya melalui media cetak maupun media online. Maraknya kebebasan penggunaan media sosial dapat menyebabkan terjadinya penyebaran hoaks atau berita palsu.


Hoaks adalah informasi palsu, berita bohong, atau fakta yang diplintir atau direkayasa untuk tujuan lelucon hingga serius (politis). Secara bahasa hoax (synonyms: practical joke, joke, jest, prank, trick) adalah lelucon, cerita bohong, kenakalan, olokan, membohongi, menipu, mempermainkan, memperdaya, dan memperdayakan. Tujuan berita hoaks untuk menyebarkan kebencian terhadap seseorang, atau suatu kelompok. Bisa juga berupa penipuan, provokasi, propaganda, atau pembentukan opini publik, hingga upaya yang direkayasa untuk menutupi kesalahan tertentu. Berita hoaks yang beredar di tengah masyarakat sering kali berkaitan dengan isu politik, agama, dan pandemi. Bahkan, ada juga penipuan seperti info lowongan pekerjaan.


Penyebab hoaks cepat menyebar dan mempengaruhi public

Hoaks bisa dengan cepatnya menyebar salah satunya karena minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah. Bahkan menurut data Unesco, minat baca masyarakat Indonesia ada di peringkat 60 dari 61 negara. Lebih banyak yang aktif di media sosial ketimbang membaca, sehingga tidak mengherankan kalau media sosial kita banyak diisi berita-berita hoaks.


Dampak dari berita hoaks
1. Menimbulkan Perpecahan
Berita bohong memicu perpecahan, baik antar individu maupun kelompok. Hal ini disebabkan penggiringan opini terhadap seseorang, sehingga menimbulkan kebencian terhadap orang tersebut. Nah, jika sudah membenci satu sama lain, maka perpecahan tidak dapat dihindari.
2. Menurunkan Reputasi Seseorang
Sering kali berita hoaks akan merugikan satu pihak, dan menguntungkan pihak lainnya. Karena berita palsu bersifat mengadu domba, pihak korban akan merasa dirugikan dengan pencemaran nama baik, dan menurunnya reputasi.
3. Tidak Lagi Percaya Fakta
Karena terlalu banyak berita bohong yang beredar, masyarakat jadi sulit membedakan mana informasi palsu, dan fakta. Dengan menyebarluasnya hoaks, masyarakat justru tidak lagi percaya dengan fakta yang sebenarnya karena terlanjur keliru.
4. Menimbulkan Opini Negatif
Berita hoaks sering kali menyasar emosi masyarakat. Fitnah yang disebar dapat menyulut kebencian dan kemarahan, sehingga masyarakat memiliki sudut pandang negatif terhadap seseorang, kelompok, ataupun suatu produk. Upaya ini bisa disebut dengan black campaign untuk menjatuhkan pesaing.
5. Merugikan Masyarakat
Hoaks bisa saja merugikan masyarakat secara materi. Hal semacam ini sudah banyak terjadi di mana seseorang diminta untuk memberikan sejumlah uang karena menang undian, dan mengatasnamakan suatu brand. Bahkan, dalam hal melamar kerja, misalnya Anda diminta untuk membayar uang pendaftaran agar bisa diterima di perusahaan tersebut.


Oleh sebab itu, hal yang perlu diingat bahwa kebebasan informasi adalah dengan berbudaya dan beretika yang baik. Dalam menggunakan media sosial juga harus hati-hati agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menangkap informasi berita maupun sumber berita tersebut.


Pentingnya literasi digital dalam menanggulangi hoaks media sosial dalam masyarakat yaitu kemampuan untuk mempelajari dan menggunakan informasi dari berbagai sumber media dan komunikasi untuk tujuan dan kegunaan yang positif. Mengingat derasnya arus informasi di media sosial menjadikan penggunanya harus berpikir kritis untuk menumbuhkan keterampilan literasi digital. Kemajuan dan ragam media komunikasi yang dimiliki oleh masyarakat menyebabkan masyarakat dan negara menghadapi efek hoaks sebagai akibat perkembangan teknologi komunikasi yang tidak bisa dikontrol lagi.


Mengingat media sosial adalah media yang paling banyak dan sering digunakan dalam penyebaran hoaks. Konten-konten yang disebar melalui media sosial dapat disampaikan oleh penggunanya tanpa penyaringan dari pihak ketiga, pemeriksaan fakta, ataupun penilaian editorial.


Hoaks yang terjadi di media sosial atau media online baik itu dilakukan oleh journalist online atau masyarakat sendiri sebagai pelaku penyebarluasan berita bohong dan palsu. Hal-hal yang bersifat kebohongan public juga tidak dipernankan misalnya melakukan kecurangan, tidak jujur, termasuk menyampaikan promosi atau iklan palsu.


Cara mengatasi berita hoaks
1. Hati-hati dengan judul provokatif
Berita hoaks seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.
Oleh karenanya, apabila menjumpai berita dengan judul provokatif, sebaiknya mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.
2. Cermati alamat situs
Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.
Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita. Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.
3. Periksa fakta
Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.
Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.
Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.
4. Cek keaslian foto
Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.
Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

https://youtu.be/ZA7H39CMR8U

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha + 62 = 64