KETERGANTUNGAN REMAJA PADA MEDIA SOSIAL DI SAMPING BONUS DEMOGRAFI

Pada era globalisasi, teknologi semakin maju. Penggunaan internet pun telah menjadi konsumsi sehari-hari dan sangat dibutuhkan mengingat perkembangan ilmu pendidikan dan teknologi yang juga bertumbuh pesat sehingga seluruh kalangan berlomba-lomba menjadi yang tercepat. Tidak dapat dielakkan bahwa media sosial memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan sehari-hari. Bagi msyarakat terutama di kalangan remaja, media sosial sudah menjadi candu sehingga mungkin tiada hari tanpa membuka media sosial, loh. Biasanya, mereka memposting kegiatan pribadinya, suasana hatinya, dan kegiatan mereka yang tidak nyata pada kehidupan mereka. Sedangkan remaja merupakan masa bagi sesorang untuk mencari identitas sejati dirinya yang nantinya digunakan untuk menghadapi masa depan. Terlebih dikabarkan bahwa indonesia akan mengalami bonus demografi yang mana usia produktif mendominasi usia non-produktif pada tahun 2030. Wah, hebat ya!

Struktur penduduk Indonesia didominasi oleh penduduk usia dewasa yaitu usia 25-64 tahun yang mencapai 25% yang mana usia tersebut merupakan usia produktif kerja [Data BPS tahun 2012]. Bonus demografi ini harus dioptimalkan semaksimal mungkin guna menumbuhkan ekonomi melalui investasi sumber daya manusia yang modern. Ledakan pertumbuhan usia produktif ini dapat meningkatkan ekonomi negara bila telah memenuhi beberapa syarat, salah satunya yaitu modal manusia yang berkualitas. Nahh, Dengan demikian, kita perlu mengubah kebiasaan bermedia sosila pada remaja yang tadinya kurang baik menjadi lebih baik.

Penggunaan media sosial tidak salah jika media sosial tersebut dimanfaatkan untuk sesuatu yang positif seperti belajar, berbisnis, atau menunjukkan karya-karya terbaik. Untuk itu, para remaja dapat melatih dirinya dengan mempelajari penggunaan media sosial yang sesuai dengan bakat mereka. Untuk menghadapi bonus demografi para kalangan remaja harus siap dan mampu baik secara lahir maupun batin. Perlu dilakukan upaya untuk mengkampanyekan bijak bermedia sosial terutama pada remaja. Ketergantungan remaja pada media sosial ini bisa menjadi peluang baik bagi Indonesia, kok.

Para remaja tentunya sudah mahir dalam menggunakan media sosial sehingga hanya mengubah pola pikir mereka agar dapat memaksimalkan penggunaan media sosial dengan bijak seperti membuka toko online, menyebarkan ilmu pengetahuan, ataupun mengunggah karya-karya mereka. Hal tersebut dapat meningkatkan kreativitas para remaja dan bisa dipakai sebagai portofolio untuk melamar kerja. Dengan demikian, bonus demografi tidak menjadi petaka bagi Indonesia, melainkan sebagai suatu anugrah. Para remaja perlu dibimbing untuk membiasakan bermedia sosial dengan baik. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dari lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat, dan lingkungan sekolah. Lingkungan-lingkungan tersebut akan sangat mempengaruhi karakter seseorang sehingga orang yang lebih dewasa dan lebih memahami keadaan harus berupaya menciptakan lingkungan yang baik dan cerdas. Aamiin..

Sebagai wujud upaya menghadapi bonus demografi, sudah sepatutnya sebagai peneruh kehidupan bangsa, kita harus mempersiapkan diri untuk memajukan bangsa ini bersama-sama. Ya, kan? Hal tersebut dapat kita lakukan melalui media sosial yang saat ini sangat digandrungi hampir seluruh remaja. Dengan demikian, kita harus memanfaatkan betul media sosial yang ada pada hal-hal yang positif sehingga kita sebagai remaja tidak hanya melihat hiburan di media sosial tetapi juga dapat banyak ilmu yang berkembang di dunia.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Captcha 4 + 2 =